STAI Al-Maarif Ciamis

WEBSITE RESMI STAI AL MAARIF CIAMIS

PENERIMAAN CALON MAHASISWA BARU

PENERIMAAN CALON MAHASISWA BARU

Rabu, 29 Juni 2022

 KONSEP HARMONISASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) DI LINGKUNGAN PTKIS  (Gagasan MBKM di STAI AL-Ma'arif Ciamis)

KONSEP HARMONISASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) DI LINGKUNGAN PTKIS (Gagasan MBKM di STAI AL-Ma'arif Ciamis)

Oleh: Mugni Muhit, S.Ag, S.Pd., M.Ag.

Dosen STAI AL-Ma'arif Ciamis


Disinyalir pendidikan sebagai proses pembentukan, bertumbuh dan berkembangnya manusia menjadi dewasa, arif dan bijaksana, baik akal, pikiran, maupun hatinya secara integral. Implementasi proses tersebut terus dibangun dengan berbagai langkah strategis dan ikhtiar refresentstif pemerintah sebagai pemangku kepentingan, guna tercapainya tujuan pendidikan nasional. 

Kebijakan pendidikan yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belakangan ini adalah “Kampus Merdeka” sebagai wujud konkrit dari paradigma merdeka belajar di lingkungan perguruan tinggi.

Nampaknya, mitsla tswab yang paling mendekati terkait kampus merdeka ini, bagi perguruan tinggi  adalah kemerdekaannya dari "tekanan" akreditasi. Sebab faktanya akreditasi ini selalu menjadi beban yang mencemaskan bagi civitas akademika kampus, dan merupakan rutinitas lima tahunan yang tak mengenal lelah. Hal ini tentu saja lebih dari cukup menyita energi dan kafabilitas institusi. Namun demikian, disadari proses akreditasi bagaimanapun adalah sebuah uji kelayakan dan kepatutan diri institusi untuk menjalankan tridharma.

Secara kerangka konseptual, kampus merdeka ini, diorientasikan untuk memberikan kelonggaran kepada institusi atau program studi, serta kebebasan melakukan akreditasi, sehingga posisinya semacam "tidak harus". Alhasil proses akreditasi hanya bagi yang menghendaki saja atau menginginkan, seperti ingin naik peringkat dari akreditasi pertama.

Berkenaan dengan MBKM ini, paling tidak ada beberapa kebijakan kampus merdeka yang digulirkan pemerintah melalui kemendikbud, yaitu:

1. Otonomi kampus, baik negeri maupun swasta untuk membuka program studi baru (bagi PTN/PTS terkareditasi A) kecuali prodi kesehatan dan pendidikan.

2. Re-Akreditasi otomatis

3. Kebebasan berkolaborasi dan alih status

4. Kebebasan Mahasiswa mengambil mata kuliah teoretis maupun praktis di dalam dan luar institusi dan prodi, serta perubahan konsep SKS.

Kebijakan yang diusung pemerintah ini dapat dipahami bahwa pendidikan yang berkebebasan berbasis bakat dan minat adalah niscaya, dan karenanya mesti menjadi prioritas. Prioritas berarti ada yang diutamakan, namun manakala semuanya diutamakan, maka berarti tidak ada prioritas. Prioritas ini muncul dari interpretasi pendidikan berdasarkan strata, bahwa S1 tendensinya menggunakan ilmu, S2 arahnya mengembangkan ilmu, dan S3 berorientasi menemukan ilmu (novelty).

Berdasarkan konsep di atas, kuliah jenjang S1 pada dasarnya tidak dituntut untuk meneliti (skripsi). S1 hanya didorong dan dikontruksi untuk mahir menerapkan berbagai disiplin ilmu. Ia tidak harus melakukan penelitian. Penelitian sejatinya hanya bagi mahasiswa pascasarjana S2 dan S3. Kematangan dan kedewasaan logika, hati dan akal pada jenjang ini, sangat memungkinkan dan layak melakukan penelitian yang berkeunggulan.

Sebuah ide dasar tentang Kampus Merdeka,  Kementerian Pendidikan Kebudayaan meluncurkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Dan MBKM bukanlah perubahan Kurikulum, akan tetapi penambahan metode pembelajaran, yang diinternalisasi ke dalam struktur mata kuliah, hingga terjadi harmoni dengan kebutuhan, minat, dan bakat mahasiswa. Dengan kata lain, MBKM bukan restrukturasi tetapi reformulasi, atau reorientasi, di mana disediakan ruang bebas untuk mahasiswa berekspresi dan eksplor kompetensinya secara mandiri. 

Wujud MBKM teoretis yang paling sederhana adalah: mahasiswa disilahkan untuk mengambil matakuliah prodi lain pada institusi yang sama , maksimal 24 sks dengan syarat telah lulus di tingkat I (semester ganjil dan genap), boleh mengambil matakuliah semester ganjil atau semester genap. 

Sementara wujud MBKM praktis adalah pengakuan (klaim) institusi dan prodi, bahwa kegiatan Magang, PPL, PKL, dan KKN yang telah biasa dilakukan mahasiswa, sebagai implemenrasi merdeka belajar, dan semua masing-masing dihitung 4 sks. 

Magang merupakan kegiatan pembelajaran di luar kampus yang umumnya dilakukan di perusahaan untuk mengetahui dan memahami pelaksanaan teori yang didapatkan mahasiswa di kampus dengan implementasinya di lapangan (perusahaan). Perbedaan yang mendasar antara magang sebelumnya dengan Magang pada kurikulum MBKM pada durasi kegiatannya.

Magang pada MBKM terdiri dari total 20 SKS yang terdiri dari beberapa bahan kajian, misal: penyusunan laporan, penyusunan program dst. Penilaian diberikan pada masing-masing bahan kajian, bukan pada magang secara keseluruhan.

Tugas Akhir dalam MBKM

Tugas akhir pada kurikulum MBKM meimiliki formasi yang berbeda dengan skripsi yang biasanya menjadi syarat lulus mahasiswa S1. Pada kurikulum MBKM, mahasiswa diberikan beragam pilihan tugas akhir diantaranya skripsi, proyek bisnis, proyek kemanusiaan dan lain-lain sesuai kebijakan program studi masing-masing.

Model tugas akhir yang variatif ini tentu sangat menarik, sebab memberikan pilihan kepada mahasiswa tentang apa yang bisa dipilih sebagai syarat kelulusannya daripada melakukan penelitian dan menulis skripsi sebagaimana pada umumnya. Kebijakan ini karena tidak semua mahasiswa mempunyai passion untuk menjadi peneliti, bahkan capaian pembelajaran pun tidak atau bukan sebagai peneliti, melainkan praktisi pendidikan, praktisi ekonomi syariah, dan praktisi bahasa arab, serta praktisi pengembang masyarakat Islam.


References:

1. Kemendikbud. 2020. Mendikbud Luncurkan Empat Kebijakan Merdeka Belajar: Kampus Merdeka.

2. Kompas.com. 2020. Ini Rangkuman Kebijakan Kampus Merdeka Mendikbud Nadiem Makarim.

3. UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003.

4. Jejen Musfah, 2018, Kebijakan Pendidikan, Kencana, Jakarta 

5. Abudin Nata, 2020, Manajemen pendidikan: Mengatasi kKelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Kencana, Jakarta.

6. David Wijaya, 2019, Manajemen Pendidikan Inklusif, Kencana, Jakarta 

7. Ahmad Muhibbin dan Achmad Fathoni, 2021, Filsafat Pendidikan, Muhammadiyah University Press, Surakarta.

Jumat, 27 Mei 2022

ARAH BARU PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA

ARAH BARU PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA

Oleh : W ANWAR SADAT, M.Pd.I.



A. Perubahan Politik Indonesia

Menurut Anis Matta Indonesia sudah mengalami berbagai gelombang perkembangan politik yang diawali sejak penjajahan di Nusantara hingga proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Di situ kita mengalami dua transformasi besar, yaitu transformasi identitas dari etnis menjadi bangsa, dan transformasi politik dari kerajaan-kerajaan kecil menjadi negara republik. Yang menarik, bangsa Indonesia telah lahir jauh sebelum berdirinya negara Indonesia merdeka. Butuh waktu cukup panjang, mulai dari itu hingga 1945 untuk merealisasikan gagasan kebangsaan menjadi wujud suatu negara merdeka.

Anis Matta menegaskan bahwa  satu tonggak sejarah yang menarik adalah dipilihnya bahasa Indonesia sebagai “bahasa persatuan” dari bangsa yang baru lahir itu. Kita tahu bahwa Bahasa Indonesia diserap dari bahasa Melayu yang mengandung spirit demokrasi dan egalitarian dalam strukturnya. Tidak ada hierarki (ngoko-kromo seperti bahasa Jawa) dan juga tidak ada dimensi waktu (past-present-future). Sedikit banyak pemilihan ini dipengaruhi hasrat ingin bebas dan setara dengan manusia bangsa-bangsa lain, sungguh luar biasa.

Gelombang selanjutnya yang berisi usaha membangun negara-bangsa modern. Rentang waktu ini banyak diisi oleh sejumlah uji coba dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari era Sukarno, Soeharto, hingga Reformasi. Semua uji coba dan pilihan itu tidak terlepas dari kondisi global saat itu, yang dipengaruhi oleh perang dingin Uni Soviet dan USA hingga runtuhnya Tembok Berlin, hancurnya Uni Soviet, serta sejumlah peristiwa bersejarah lainnya pada akhir 1980-an hingga paruh pertama 1990-an.

Perubahan bernegara dari Orde Lama yang sudah membuat pondasi bernegara namun gagal dalam memenuhi harapan rakyat pada umumnya, lalu dteruskan Orde Baru yang berusaha mencarri warna baru untuk mewujudkan harapan rakyat pada umumnya yaitu kesejahtraan yang menyeluruh. Saat itu dijadikanlah negara yang kuat dan tahan banting dari segala rongrongan, namun negara semakin kuat dan terlalu kuat sehingga lupa diri dan meruksak demokrasi yang sudah dicanangkan sejak berdirinya negara, hingga berakhirnya pada tahun 1997.

Gerakan Reformasi datang dimulai dari tahun 1998 sejak Suharto mengundurkan diri tangal 21 Mei 1998 lalu digantikan oleh BJ.Habibi berusaha untuk mewujudkan sintesis bahwa kita bisa mewujudkan demokrasi dan kesejahteraan. Karena itu semangat zaman Reformasi adalah menolak kediktatoran dan menciptakan kesejahteraan tanpa perlu mengawalnya dengan kekuatan militer.


 B. Arah Baru Politik Indonesia

Menurut Anis Matta, setelah 20 tahun lebih kita berada pada era reformasi, kita belum bisa terbang menggapai langit yang tinggi, belum bisa mewujudkan apa yagn dicita-citakan oleh para pendiri bangsa seperti yang tertuang dalam pembkaan UUD 1945 pada alinea kedua yaitu mengantarkan rakyat Indonesa keke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, maka jika kita ingin terbang tinggi maka syaratnya adalah penguasaan ilmu pengetahuan yang kemudian diturunkan ke dalam pengembangan teknologi, kekuatan militer, dan penciptaan kesejahteraan.

Anis Matta menuturkan bahwa ada tiga hal untuk mewujudkan itu semua, yang pertama harus dilakukan adalah konsolidasi ideologi. Bagaimana kita mempertemukan empat komponen: agama, nasionalisme, demokrasi, dan kesejahteraan dalam satu kerangka ideologis. Ini berarti kita harus mengakhiri konflik antara Islam dan nasionalisme serta antara Islam dan negara. Kedua adalah pembangunan kapasitas negara di bidang ekonomi, teknologi dan militer untuk memastikan delivery kesejahteraan kepada rakyat. Ketiga adalah mengubah pola aliansi dan kemitraan strategis global kita. Indonesia sejahtera pada masa Orde Baru karena bergabung dengan sistem kapitalisme global yang sedang berjaya. Untuk menjadi bangsa berdaulat dan sejajar di dunia, kita tidak boleh lagi hanya menjadi follower dari kekuatan besar, karena sekarang sedang tidak ada kekuatan dominan di dunia.

Untuk menjadi pemain utama dunia Indonesia punya dua daya ungkit (leverage) yang selama ini terabaikan. Leverage yang pertama adalah posisi sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. Kedua adalah Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia, baik dari jumlah penduduk maupun dari Pendatan domistik Bruto (PDB) nya.

C. Pengertian Pendidikan Islam

Kata pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Inonesia, berasal dari kata “didik” yang berarti proses, cara, perbuatan mendidik. Arti lainya adalah proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. ( https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pendidikan )

Istilah pendidikan dalam kontek agama islam tidak lepas dari tiga istilah at-tarbiyah, at-ta’lim dan at-ta’dib, seperti yang direkomendasikan oleh Konfrensi Internasional Pendidikan Islam tahun 1977. (Mahmud  dan Tedi Priatna, 2008:14).

 At-tarbiyyah, rabban, rabba diartikan memberi makan, memelihara , mengasuh, menanggung, membuat, membesarkan dan menjinakan, seperti dalam QS.Al-Isra 24 dan Asyuaro ayat 18:

وَاخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحۡمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِىۡ صَغِيۡرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."

قَالَ اَلَمۡ نُرَبِّكَ فِيۡنَا وَلِيۡدًا وَّلَبِثۡتَ فِيۡنَا مِنۡ عُمُرِكَ سِنِيۡنَۙ

Fir'aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.

At-ta’lim ; pengajaran.berasal dari kata ‘allama proses transmisi ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu  seperti dalam Q.S. Al-baqarah  ayat 31 :

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى الۡمَلٰٓٮِٕكَةِ فَقَالَ اَنۡۢبِــُٔوۡنِىۡ بِاَسۡمَآءِ هٰٓؤُلَآءِ اِنۡ كُنۡتُمۡ صٰدِقِيۡ

Artinya “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

Ta’diib sbagai proses pengenalan dan pengakuan secara secara berangsur-angsur yang ditanamkan dalam diri manusia tentang temat-tempat yang tepat dalam tahapan penciptaan kemudian membimbing  dan mengarahkan kpeada pengakuan dan pengenalan kekuasaan dan keaugungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaan-Nya.

Banyak sekali para ahli yang mendefinisikan pendikan diantaranya adalah Hasan Langgulung  (1987: 29) yang mendefinisikan pendidikan dari sisi fungsinya yang apabila dlihat dari pandangan masyarakat adalah sebagai  tempat bagi berlangsungnya pendidikan sebagai satu upaya penting pewarisan kebudayaan yang dilakukan oleh generasi tua kepada seluruh genersai berikutnya supaya ada kesinambungan, sedang kalau dilihat dari pandangan individu adalah sebagai upaya pengembangan potensi manusia, supaya menyadari akan dirinya di masyarakat dan penghuni alam jagat raya seutuhnya.

Ahmad D Marimba seperti dikutip Mahmud dan Tedi (2003:6) mendefinsikan bahwa pendidikan merupakan bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh pendidik terhadap anak didiknya baik jasmani atau ruhaninya sehingga terbentuknya kepribadian yang utama. Pengertian ini sangat singkron dengan apa yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia dalam merumuskan pendidikan, sperti dicantumkan dalam UUSPN No.2 Tahun 1989 pasal 1 : “usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”   

Pengertian islam secara bahasa berasal dari kata aslama - yuslimu – islāman yang bermakna untuk menerima, menyerah atau tunduk dan dalampengertian  yang lebih jauh taat kepada Tuhan. Dalam kamus Lisān al-‘Arab dijelaskan bahwa Islām mempunyai arti semantik sebagai berikut: tunduk dan patuh (khadha‘a - khudhū‘ wa istaslama - istislām), berserah diri, menyerahkan, memasrahkan (sallama - taslīm), mengikuti (atba‘a - itbā‘), menunaikan, menyampaikan (addā - ta’diyyah), masuk dalam kedamaian, keselamatan, atau kemurnian  (https://id.wikipedia.org/wiki/Islam#Etimologi).

Ahli tafsir terkenal Ibnu Katsir memberikan definisi tentang islam bahwa islam adalah sebuah aturan hukum yang ditetapkan langsung oleh Allah Yang Maha Bijaksana yang wajib ditaati. Selanjutnya agama jua bisa disebut syara atau syariat atau millah (Hasbi Ashdidiqi, 1998).

Menurut Ibnu Taimiyah kata islam sama dengan ad-din yang artinya adalah tunduk dan merendahkan diri kepada Allah. Maka dari itu tidak dikatakan islam bagi orang yang selalu menyekutukan Allah dengan sesuatu  (Hasbi Ashdidiqi, 1998).

Menurut istilah, Islam adalah ‘ketundukan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhammad SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum/ aturan Allah SWT yang dapat membimbing umat manusia ke jalan yang lurus, menuju  kekebahagiaan dunia dan akhirat .Istilah lain menyebutkan bahwa Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi dan utusan Allah (Rasulullah) terakhir untuk umat manusia, berlaku sepanjang zaman, ia bersumberkan    kepada Al-Quran dan As-Sunnahserta Ijma 'Ulama  (www.risalahislam.com/2013/11/pengertian-islam-menurut-al-quran.html).

Memperhatikan definisi pendidikan dan islam di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendidkan Islam merupakan usaha sadar dalam pembentukan manusia seutuhnya dalam rangka estafet kesinambungan peradaban dan kebudayaan yang berdasarkan islam yaitu yang menjadikan Allah swt. sebagai satu-satunya pengatur kelangsungan hidup mahluk Allah atau seluruh alam dan seisinya, sehingga menjadi manusia yang bahagia di dunia dan di akhirat.

Ahmad D Marimba seprti dikutip Mahmud dan Tedi (2003: 9) mendefinisikan Pendidikan Islam sebagai sebuah bimbingan orang dewasa atau pendidik terhadap terdidik untuk menjadikan semua terdidik terbentuk kpribadianya sesuai dengan syariat islam.

Hasan Langgulung (1987 : 27-28), menegaskan bahwa pendidikan islam itu merupakan perkawinan dari budaya dan kahazanah keilmuan yang sudah ada sejak zaman Yunani Kuno, India dan Persia dengan semangat al-quran, sehingga peradaban itu menjadi khazanah tersendiri bagi umat islam dengan kehasan islam yang mewarnai peradaban sebelumnya. Watak peradaban islam dengan moto Rohmatal li alamin dan juga atas bimbingan wahyu ilahi ini menciptakan sains pertama yang betul-betul mendunia dalam sejarah umat manusia. Perkawina budaya ini puncaknya terjadi pada masa kekhalifah al-Makmun (813-833 M)  yang meneruskan perjuangan ayahnya Harun Ar-Rasyid dalam pengembangan khazanah keilmuan, ini dibuktikan dengan diperluasnya Baitul Hikmah sebagai lembaga penterjemahan dari bahasa Yunani, India dan Persia ke dalam Bahasa Arab menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan dan tempat penelitian ilmiah, juga didirikanya Majlis Al-Kunazoroh sebagai kajian keagamaan yang dilaksanakan di rumah-rumah, masjid-masjid dan istana khalifah.

Pendidikan islam pada dasarnya pendidikan menyeluruh dari seluruh aspek pendidikan baik untuk kebutuhan jasmani dan ruhani. Ia terleselengara dengan tidak membedakan mana pendidikan umum dan mana pendidikan agama, tapi semua terselenggara dengan mengintegrasikan kekuatan pendidikan agama dalam pendidikan umum, sehingga menghasilkan pemahaman yang luar bisa dalam menguatkan ketauhidannya kepada Allah swt. Apabila seorang ilmuwan yang islami menemukan teori baru dari alam raya ini, maka semakin meyakininya akan kebesaranya Tuhanya yang menciptakan alam dan isinya, bukan sebaliknya menuhankan ilmu pengetahuan. Nauzu billah.

 D. Arah Baru Pendidikan Islam Indonesia

Mengadopsi pemikiran politik Anis Matta dan para pemikir Islam di atas maka arah baru pendidikan Islam Indonesia yaitu berusaha untuk terbang tinggi menjadi yang terbaik di dunia dengan pengembangan ilmu pengetahuan seperti yang sudah dipelopori oleh ilmuwan-ilmuwan islam pada masa khalifah Abasyiah yaitu ilmu pengetehuan yang dinfasi al-Quran dan hadits sebagai pedoman dalam pengamalan agama islam, sehingga nantinya berdampak pada pengembangan teknologi, militer dan penciptaan kesejahteraan yang menyeluruh seperti konsep pengutusan Rasulullah Muhammad saw. yaitu sebagai rahmatan lil alamin, rohmat bagi seluruh alam.

Pendidikan Islam secara umum isinya adalah tentang Pendidikan Keimanan (Q.S. 2:1-5), Pendidikan amaliah (Q.S.Al-Baqoroh:82), Pendidikan ilmiah (Q.S. Al-alaq; 1-5 dan Q.S.68:1), Pendidikan Akhlaq merupakan bagian terbesar dalam proses pendidikan islam (Q.S. 16:60, 7:180) dan pendidikan sosial (Q.S.49;13)

Penguatan  ilmu pegetahuan dalam hal ini termasuk ke dalam isi pendidikan ilmiah setelah yang paling utama adalah pendidikan keimanan. Sehingga penguatan ilmu pegetahuan tentunya harus bertujuan untuk meningkatkan keimanan kepada Allah swt.

Allah swt. berfirman dalam surat al-alaq ayat 1-5 dan juga surat al-qolam ayat 1:


اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ


“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

                    

نٓ‌ ۚ وَالۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُوۡنَۙ

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.

Allah juga menggambarkan bagamana cara manusia memperoleh ilmu pengetahuan, seperti dalam surat an-Nahl ayat 78:


وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”


Mengenai penggunaan ilmu pengetahuan, Allah berfirman dalam surat al-Baqoroh ayat 102:

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui

 

Penguatan ilmu pengetahuan secara resmi bisa dilaksanakan di pondok pesantren, di sekolah umum dalam mata pelajaan PAI dan di Madrasah-madrasah yang dikelola oleh kementrian Agama dengan sistem pembelajaran terintegrasi selama 12 tahun mulai MI, Mts dan MA.

Pelaksanaan penguatan  ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga di atas tentunya tidak akan terlepas dari tiga isu besar  yang mempengaruhi dunia pada umumnya, yaitu isu globalisasi, demokratisasi dan liberalisasi Islam. Ketiganya masuk ke dalam relung-relung isi dan proses pendidikan islam husunya di Indonesia, sehingga penguatan ilmu pegetahuan itu harus berorientasi untuk peningkatana teknologi, penguatan militer dan kesejahteraan rakyat pada umumnya.n

Memperhatikan gejolak yag terjadi dewasa ini maka kekuatan teknologi, militer dan ekonomi menjadi indikator yang utama atas kemajuan sebuah negara, maka pendidikan islam dewasa ini harus berusaha untuk mengembalikan kesuksesan pada zaman khalifah al-Makmun seperti diuraikan di atas, yaitu dengan pengambilan semua ilmu pengetahuan  yang belum dikuasi umat islam saat ini dengan mengintegrasikan pemahaman keagamaan yang yang kuat dalam setiap sesi pemahaman ilmu pengetahuan tersebut.

Tugas ilmuwan saat ini adalah berkolaborasi dengan dengan ahli islam untuk menghasilkan ilmuwan-ilmuwan berikutnya yang sudah utuh di dalamnya menguasai keagamaan sehingga meghasilkan tknologi yang islami, militer yang islami juga kesejahtraan yang dibalut oleh kekuatan syariat islam yang kuat, mulai dari perumusan kurikulum, metode, pndekatan dan bahan ajar yang disajikan.


  Daftar Pustaka

Heri Nur & Munzir, Watak Pendidikan Islam,  (Jakarta: Priska Agung Insani, 2000)
Langgulung, Hasan, Azas-azas Pendidiman Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1987)
Mahmud & Tedi Priatna, Kajian Epistimologi, Sistem dan Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Bandung: Azkia Pustaka Utama, 2008)

Sabtu, 21 Mei 2022

Mewujudkan Generasi Penerus Pejuang Pendidikan yang Berkontribusi untuk Kemajuan Bangsa, Melalui Pemahaman Mendasar Regulasi Pendidikan Nasional

Mewujudkan Generasi Penerus Pejuang Pendidikan yang Berkontribusi untuk Kemajuan Bangsa, Melalui Pemahaman Mendasar Regulasi Pendidikan Nasional

Disampaikan dalam seminar Pendidikan, 



Oleh: H. Mugni Muhit, S.Ag, S.Pd., M.Ag.

Dosen STAI Al-Ma'arif Ciamis. 

(Sabtu, 21 Mei 2022)

 

Dalam undang-undang sisdiknas no 20 tahun 2003 ditegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Sementara pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. 

Maka sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, sehingga tumbuh dan berkembang sesuai dengan fithrahnya pendidikan itu sendiri, yakni modernisasi dan pembaharuan terus-menerus.

Dalam UU Sisdiknas Pasal 3  disebutkan bawa Dasar pendidikan nasional adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sedangkan fungsinya yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,  bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sepuluh konten dasar pendidikan inilah yang harus disentuh optimal, sebagai maqasyid al-tarbiyyah (tujuan-tujuan pendidikan). Diyakini bahwa manakala core ini terdidik terlatih dengan baik, maka menghadirkan dan mewujudkan generasi unggul yang beradab dan bermartabat mampu berkobtribusi bagi kemajuan bangsa, dapat tercapai.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi faktanya berdampak pada perubahan hampir di semua aspek kehidupan. Oleh sebab itu dunia pendidikan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah berkaitan dengan tuntutan untuk menghasilkan sumber daya manusia dan manusia sumber sumber daya yang berkualitas, sebab melalui proses pendidikan akan terlahir generasi muda yang berkualitas, mampu berkobtribusi untuk kemsjuan bangsa, serta diharapkan dapat mengikuti perubahan dan perkembangan kemajuan zaman di segala aspek kehidupan. 

Pembelajaran juga harus sesuai dengan standar proses pendidikan. Standar proses pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan (Sanjaya, 2006: 4). Dan untuk mencapai standar kompetensi lulusan tersebut, pada hakekatnya mutu pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya faktor yang paling menentukan adalah kurikulum pendidikan yang bermutu. 

Selama lima dasawarsa terakhir, atau semenjak berakhirnya era Presiden Soeharto (masa Orde Baru), bangsa Indonesia telah melakukan 6 kali penggantian kurikulum. Bahkan dalam 19 tahun terakhir, telah 4 kali terjadi penggantian kurikulum. Pada dasarnya, kurikulum-kurikulum tersebut memiliki tujuan yang sama, hanya dalam teknis implementasinya terdapat perbedaan. 

Kurikulum sendiri didefinisikan bermacam-macam oleh para ahli. Namun pada intinya semua mengarah kepada pengertian yang sama. Menurut Saylor J. Gallen & William N. Alexander dalam bukunya “Curriculum Planning” menyatakan Kurikulum adalah “Keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung dikelas, dihalaman maupun diluar sekolah”. 

Menurut B. Ragan mengemukakan kurikulum adalah “Semua pengalaman anak di bawah tanggung jawab sekolah” Menurut Soedijarto, sebuah pengalaman Pemikiran Bagi Prosedur Perencanaan dan Pengembangan; kurikulum Perguruan Tinggi, BP3K Departeman Pendidikan dan Kebudayaan tahu 1975 ”Segala pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan dan diorganisir untuk diatasi oleh siswa/mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan bagi suatu lembaga pendidikan”.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah suatu usaha terencana dan terorganisir untuk menciptakan suatu pengalaman belajar pada siswa di bawah tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan untukmencapai suatu tujuan. 

Sebagaimana disebutkan di atas, beberapa kurikulum pernah diterapkan pada sistem pendidikan di Indonesia. Di antaranya, kurikulum 1947, kurikulum 1952, kurikulum 1964, kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum1994, KBK, KTSP, dan kurikulum 2013. Anak kandung kurikulum 2013 adalah kurikukum prototype.

Menurut BSNP atau Badan Standar Nasional Pendidikan, kurikulum merdeka belajar adalah suatu kurikulum pembelajaran yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat. Di sini, para pelajar (baik siswa maupun mahasiswa) dapat memilih pelajaran apa saja yang ingin dipelajari sesuai dengan bakat dan minatnya.

Kurikulum ini esensinya adalah membentuk peserta didik melalui pendekatan minat dan bakat. Prototype ini sesungguhnya adalah benang merah dari kurikulum merdeka belajar, yang sudah sedang diterapkan mulai 2020 di semua jenjang pendidikan. Oleh karena itu terdapat perbedaan paradigma kurikukum pada setiap jenjang tersebut. 

Sesuai kebijakan kemendikbud ristek, mulai tahun ajaran 2022/2023 mendatang, implementasi Kurikulum Merdeka ini tidak hanya akan dikhususkan pada satuan pendidikan tingkat SMA/sederajat saja. Namun, kurikulum ini juga bisa mulai digunakan pada tingkat lainnya, seperti TK, SD, SMP, hingga Perguruan Tinggi (PT). Tentunya, penerapan kurikulum ini memiliki perbedaan pada masing-masing jenjang.

Merdeka Belajar di tingkat PAUD/TK maknanya adalah merdeka untuk bermain. Dengan begitu, penerapan Kurikulum Merdeka di tingkat PAUD/TK adalah dengan mengajak anak bermain sambil belajar. Sementara di tingkat SD, ada beberapa perbedaan dalam hal mata pelajaran (mapel) pada penerapan Kurikulum Merdeka. Di antaranya adalah penggabungan mapel IPA dan IPS menjadi satu (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), serta menjadikan bahasa Inggris yang sebelumnya merupakan mapel muatan lokal (mulok) sebagai mapel pilihan.

Hampir sama dengan jenjang SD, Panduan Kurikulum Merdeka Belajar di tingkat SMP juga terdapat perubahan status beberapa mapel. Misalnya, mapel Teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK) menjadi mapel wajib. Pada kurikulum sebelumnya, mapel ini hanya sebagai pilihan. Maka, kelak di semua jenjang SMP, diharuskan memiliki mata pelajaran Informatika.

Untuk jenjang SMA, penggunaan Kurikulum Merdeka memungkinkan para siswa tidak akan lagi dibeda-bedakan dengan berbagai peminatan, seperti IPA, IPS, maupun Bahasa.

Sementara itu, di tingkat SMK, model pembelajaran akan dibuat menjadi lebih sederhana, yaitu 70 persen mapel kejuruan dan 30 persen mapel umum. Di samping itu, pada akhir masa pendidikannya kelak, para siswa dituntut untuk menyelesaikan suatu esai ilmiah sebagaimana para mahasiswa yang harus menyelesaikan tugas akhir atau skripsi saat akan lulus studi. Hal ini demi mengasah kemampuan para siswa untuk dapat berpikir kritis, ilmiah, dan analitis.

Kurikulum Merdeka Belajar Perguruan Tinggi terwujud dalam Program Kampus Merdeka. Pelaksanaannya pun memiliki beberapa perbedaan dengan penerapan kurikulum sebelumnya. Dalam Program Kampus Merdeka, mahasiswa diberi kesempatan untuk mempelajari sesuatu di luar program studi yang ditempuhnya. Hal ini bisa dilakukan melalui beberapa cara, seperti praktik kerja (magang), pertukaran mahasiswa, penelitian, proyek independen, wirausaha, menjadi asisten pengajar, juga Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik untuk membangun dan mengembangjan desa kreatif dan berkeunggulan lokal wisdom. 

 

Rabu, 05 Januari 2022

 TARBIYAH RUHIYAH MELEJITKAN KAPASITAS INTELEKTUAL CENDIKIA DALAM AKTIVITAS MUAMALAH MALIYAH

TARBIYAH RUHIYAH MELEJITKAN KAPASITAS INTELEKTUAL CENDIKIA DALAM AKTIVITAS MUAMALAH MALIYAH

Mugni Muhit, S.Ag, S.Pd., M.Ag.



Tarbiyah yang berarti pendidikan, telah diimplementasikan semenjak Nabi Adam As. akan dinobatkan sebagai Khalifah fil Ardl. Tugas utama dan pertama khalifah adalah memakmurkan bumi dan alam semesta yang Allah Ciptakan. Substansi memakmurkan di sini adalah membangun, menata, dan mengelola sistem hidup, serta rekayasa sosial kemanusiaan yang sejalan dan senapas dengan kehendak Tuhan. 

Memakmurkan bumi memiliki pengertian yang sangat luas. Tidak hanya makmur dari perspektif kuantitas dan kualitas, namun juga esensi dan substansi proses memakmurkannya mesti dipandu wahyu dikawal doktrin Tuhan yang Maha Esa, agar akselerasinya maksimal dan efektif.

Efektivitas eksistensi manusia salah satunya yang paling dominan adalah kesadaran ruhiyah. Manakala kesadaran ruhiyahnya tersentuh dengan baik, termanifestasikan dengan seksama, maka disinyalir manusia itu akan benar-benar efektif pada peran dan kiprah kemanusiaannya.

Manusia adalah makhluk dwikutub yang sangat unik. Keunikannya terletak pada potensi hakikinya, yakni potensi fithrah. Secara fithrah, manusia adalah makhluk esensial. Esensi manusia adalah roh. Roh yaitu kebesaran Sang Pencipta. Tanpa roh manusia bukanlah manusia, dan tidak akan bertumbuh dan berkembang sebagaimana seharusnya manusia. 

Roh yang Allah internalisasikan ke dalam jiwa di kedalaman hati yang paling dalam, merupakan nutrisitas sentral, sebagai pemacu dan pemicu munculnya enegri positif. Energi inilah yang menjembatani manusia berjalan, melangkah bersinergi dengan semesta anugerah terbaik Tuhan.

Ada satu anugerah yang seringkali dilupakan oleh manusia, yaitu otak. Otak inilah yang menjadi superleader sekaligus top leader manusia. Dengan otak manusia mampu membedakan kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan. Saat otak ini berfungsi, maka itulah yang kemudian disebut akal. Tuhan sendiri sering mempertanyakan sekaligus monev atas amanah otak yang eksisten ini. 

Berkali-kali Tuhan menyapa dengan santun, apakah kalian tidak menggunakan akal? Apakah kalian tidak memikirkan kebesaran Tuhan, apakah kalian tidak mencermati hamparan semesta ini yang begitu besar dan luas ini sebagai nikmat terindah Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya adalah pengakuan Tuhan bahwa manusia itu mampu berpikir, dapat menggunakan akalnya yang cerdas untuk mengelola alam semesta ini dengan rasionalitas dan logika yang tepat dan efektif.

Secara fisikal, cukup berat sesungguhnya otak manusia yang ada di dalam tengkorak kepala itu. Beban otak itu mencapai 1400 -1700 gram, mendekati dua kilogram. Namun demikian, mengapa kita tidak merasakan beban yang sebesar ini di kepala? Mengapa juga rasanya aman, damai, dan nyaman membawa beban yang cukup berat ini di kapasitas kepala ? Jawabannya adalah sebab otak manusia ternyata mengapung pada cairan tulang belakang kita dengan posisi sangat ideal.

Teori fisika menyatakan, bahwa setiap benda yang terendam dalam cairan dengan otomatis akan kehilangan beratnya sebesar beban cairan tersebut. Oleh sebab itu kita tidak begitu merasakan beban tersebut. Karena berat otak menjadi hanya sekitar 50 gram saja. Ini adalah kuasa Allah, kasih sayang-Nya terhadap manusia.

Untuk menjamin peran otak yang penuh akal ini, maka Tuhan syariatkan ajaran Sholat, bahkan menjadikannya sebagai kewajiban, agar selalu dikerjakan. Ujung-ujungnya supaya otak manusia stabil. Dalam kestabilan inilah otak akan mampu berpikir logis dan sehat menyikapi fenomena hidup dan kehidupan.

Dengan ritual dan harokah yang tertib di dalam sholat, cairan yang mengais otak, bergerak naik turun saat ruku', sujud serta pada segala gerakan sholat. Refleksi ini memungkinkan bagi cairan tersebut mampu memberikan semacam pijatan pada otak. Hal ini mungkin yang menjadi penyebab ketenangan dan kedamaian batin setelah sholat. Semakin terlatih dan terdidik ruhiyah manusia, maka akan semakin cerdaslah ia.

Bermuamalah adalah berinteraksi, berkolaborasi dengan sesama manusia untuk bisa  saling memberi dan menerima manfaat. Manfaat menjadi alasan utama adanya transaksi. Baik dalam ekonomi, keuangan, bisnis dan segala bentuk muamalah manusia.

Sebagai insan cendikia, manusia harus mampu menerapkan kecerdasan akal yang Allah anugerahkan. Dengan akal manusia saling membantu, saling menolong, saling mendukung, saling suport dalam kebaikan dan kesabaran. Tarbiyah birun, taqiyah, dan sobrun inilah sebenarnya yang mendorong kuat melejitkan kapasitas intelektual manusia yang efektif dalam segala aktivitas muamalah maliyahnya.

Senin, 03 Januari 2022

PRAYER AS A HOLY RITUAL EDUCATES THE ABILITY TO MAGNIFY GOD THE MOST GREAT AND REDUCE OTHERS

PRAYER AS A HOLY RITUAL EDUCATES THE ABILITY TO MAGNIFY GOD THE MOST GREAT AND REDUCE OTHERS

Mugni Muhit, S.Ag, S.Pd , M.Ag.

 



Prayer means praying, contemplating getting closer both physically and spiritually to the Creator, Allah Subahanahu wa Ta'ala. Prayer technically begins with takbirotul ihrom in which there is prayer and dhikr then ends with greetings. Takbirotul ihrom is the starting point for movement and contemplation in prayer. Therefore, takbirotul ihrom is a pillar that should not be skipped. The position and quality of the takbirotul ihrom determines the quality and validity of the prayer.

Secara lughawi, takbirotul ihrom berarti kewajiban membesarkan Allah dan haram mengecilkannya. Sebab memang faktanya hanya Allah yang Maha Besar dan harus dibesarkan oleh hamba-Nya, meskipun itu tidaklah berpengaruh apapun kepada dzat Allah. Saat hamba-Nya membesarkan Allah, maka sesungguhnya ia sedang menghargai dirinya sendiri yang manfaat penghargaan itu akan kembali kepadanya, bukan kepada Allah SWT.

Takbir berarti membesarkan, maksudnya mengakui bahwa hanya Allah saja yang Maha Besar, selain-Nya kecil dan bahkan hina dina. Ihrom artinya haram, maksudnya haram hukumnya membesarkan selain Allah. Justru mafhum mukhalafahnya adalah kewajiban membesarkan Allah.

Dengan demikian, takbirotul ihrom bermakna kewajiban mengakui bahwa hanya Allah yang besar, sementara makhluk selain-Nya teramat kecil. Kalaupun ada makhluk yang merasa atau dianggap besar, itu adalah titipan atau amanah dari pemilik kebesaran yang hakiki, yakni Allah Swt. Keyakinan inilah yang menjadkan shalat sah atau tidak sah. Sah jika takbirotul ihrom itu diungkapkan, dan tidak sah shalatnya jika tidak membacakan takbirotul ihrom.

Alasan lain yang juga penting untuk diketahui adalah bahwa dengan takbirotul ihrom, seorang yang sedang shalat menyadari bahwa dirinya kecil, hidupnya, dan segala aktivitas duniawinya, serta segala kedudukan, jabatan, harta benda, dan seluruh bentuk kemewahan dan keagungan dunia, adalah juga kecil dan tak begitu penting manakala ajakan shalat telah berkumandang, dan perintah penunaiannya telah tiba.

Maka shalat sebagai ritual agung dan suci ini, merupakan rekayasa Tuhan yang bertujuan untuk mendidik sikap manusia agar benar-benar menjadi manusia. Pendidikan sikap inilah sebetulnya yang penting dipahami dan direalisasikan dalam kehidupan manusia hingga menjadi kebiasaan, yakni sikap kesadaran diri menjadi tahu diri, tahu situasi dan tahu kondisi. Sikap tersebut pada akhirnya akan membentuk kemampuan seorang muslim untuk membesarkan Allah dan mengecilkan dirinya serta segala sesuatu selain-Nya.

Rabu, 08 Desember 2021

 Prinsip-prinsip Transaksi Ekonomi dan Keuangan Syariah Era Digital

Prinsip-prinsip Transaksi Ekonomi dan Keuangan Syariah Era Digital

                                                    Oleh: Mugni Muhit, S.Ag, S.Pd., M.Ag.


Era digital yang sedang menjadi corak dan warna aktifitas interaksi ekonomi dan keuangan syariah, kini semakin  bertumbuh dan berkembang mengawal berbagai jenis transaksi masyarakat Muslim global. Hampir semua jenis bisnis dewasa ini dapat dikembangkan melalui media sosial dan elektronik lainnya. Dengan kecepatan akses internet yang luar biasa inklusive inilah, seluruh kegiatan ekonomi dan keuangan berjalan begitu cepat. Dalam perspektif Islam, bisnis adalah aktivitas ibadah yang akan mendapatkan keuntungan (ujroh) di dunia kini, dan pahala (ajrun) di akhirat kelak. Keuntungan dwikutub ini akan senantiasa diraih seorang Muslim, manakala aktivitas muamalahnya itu dilandasi oleh niat ibadah dan tujuan humanis teologis.

Niat dan tujuan teologis tersebut sebagai landasan kehalalan kinerja dan amal duniawi. Tanpa niat dan tujuan itu, maka sekecil apapun amal yang dilakukan, tidak akan mendapat keuntungan ganda (profit degree). Oleh sebab itu maka Muslim sejati yang nafasnya iman dan geraknya taqwa serta langkahnya semata untuk ibadah, maka niat dan tujuan ini menjadi prasyarat ketercapaian (al falah). Secara konsepsional, al falah memiliki pilar mendasar, yaitu khair, ma'ruf, dan hasan.

Khair berarti kualitas kebajikan yang dilakukan oleh personal. Kebajikan ini dominasi implikasinya lebih kepada subjek pelaku kebajikan tersebut. Seseorang dinilai baik ketika ia  secara pribadi, tidak mengerjakan atau melakukan tindakan yang menyimpang dari norma, baik norma agama, maupun norma sosial. Ma'ruf artinya sama dengan khair, namun ma'ruf lebih kepada aktivitas yang dikerjakan secara kolektif. Keduanya saling interrelasi. Bahkan saat kedua amal shaleh ini terintegrasi akan hasilkan energi yang berdampak positif bagi terbangunnya insan kamil yang kamaliyat.

Secara lughawi hasan berarti kebaikan yang implikasi positifnya kembali kepada pelaku. Namun berdampak besar bagi kebaikan lingkungan sekitar. Bahkan tatkala orang lain mencontoh dan mengikuti kebaikan itu, maka efek positifnya dapat dirasakan dalam waktu relatif lama bahkan meski telah meninggalkan dunia fana ini. Pilar-pilar inilah yang mesti mengawal sepak terjang dan segala jenis transaksional ekonomi dan keuangan. Hal ini penting agar transaksi tersebut halal sebab telah senapas dengan prinsip syariah.

Prinsip-prinsip syariah

1. Tauhidullah

Keyakinan dan kesadaran bahwa segala aktivitas dan transaksi duniawi adalah semata karena dan untuk Allah Swt. Keyakinan ini menjadi dasar dan latar belakang asasi muamalah. Sehingga semua amal diorientasikan dalam rangka ibadah sebagai bentuk pengkhidmatan dan tasarruf duniawi yang diridhai Sang Pencipta, Pemilik segalanya.

2. Ibahah

Ibahah bermakna dibolehkan dan dibenarkan oleh syariat Islam. Segala hal subjek dan objek serta segala yang terkait dengan keduanya, harus dipastikan tidak mengandung gharar, tidak mengandung maisir, tidak mengandung riba, tidak mengandung tadlis (penipuan), tidak mengandung tahkir (penimbunan), tidak mengandung tadzlim (dzalim dan aniaya), tidak mengandung ma'siyyat (dosa dan menyimpang dari aturan ajaran Islam), serta tidak mengandung Fakhsya (negatif thinking).

3. Halal

Halal di sini artinya sah dan boleh ditransaksikan dan dikonsumsi. Aspek halal ini harus menjadi perhatian serius. Sebab yang baik dan benar belum tentu halal. Tetapi yang halal sudah pasti ia baik dan benar. 

4. Milikutaam

Kepemilikan dalam fiqih Islam ada dua macam. Pertama kepemilikan sempurna (milkuttaam), dan kedua kepemilikan tidak sempurna (milkunnaaqis). Objek yang boleh ditransaksikan adalah objek dengan kualifikasi milik sempurna. Kepemilikan yang belum atau tidak sempurna tidak boleh ditransaksikan.

Ada banyak model dan jenis transaksi dalam dunia maya, termasuk di media sosial. Kini media sosial menjadi ladang dan media strategis para pengusaha dan pebisnis untuk mempromosikan segala jenis produk, baik produk produktif maupun konsumtif. Maka penting bagi umat Islam yang beriman untuk bekerja mencari rezeki dan karunia Tuhan dengan cara yang halal. Cara yang dianjurkan Tuhan dan teladan yang ditunjukan Rasul-Nya.


*Penulis adalah Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah  STAI Al-Ma'arif Ciamis dan Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Hidayah Jatinagara Ciamis.

Sabtu, 30 Oktober 2021

GAYA HIDUP ADALAH ISTIQOMAH MENELADANI RASULULLAH SAW

GAYA HIDUP ADALAH ISTIQOMAH MENELADANI RASULULLAH SAW

 


Oleh: Mugni Muhit

Dosen STAI Al-Ma'arif Ciamis dan Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Hidayah Jatinagara Ciamis


Khutbah I


الحمد لله الذي له ما في السماوات والأرض وهو على كل شيء قدير. والصلاة والسلام على معلم الناس الخير محمد بن عبد الله الذي أوتي القرآن ومثله معه، وجعل الله طاعته من طاعته هو سبحانه. أما بعد،  أما بعد. فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون  


Hadirin jamaah jumat hafidzakumullah


Melalui rutinitas ibadah jumat ini marilah kita  fokus dan istiqomah memperbaiki mutu iman dan kualitas taqwa kepada Allah Azza wajalla. Sebab kita meyakini betul bahwa hanya iman dan taqwa sajalah yang dapat mengawal dan membimbing lahir batin kita menuju kebahagiaan sejati yang sesungguhnya di dunia kini dan ahirat kelak.


Hadirin jamaah jumat hafidzakumullah


Allah azza wajalla menuturkan di dalam QS Ali Imron ayat 102: "wahai orang orang yang beriman bertaqwalah keapada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan jangan kalian mati kecuali dalam keadan beriman dan bertaqwa".


Dalam Tafsir Almaroghi karya monumentalnya Muhammad Mustofa Al-Maroghi, menjelaskan bahwa Taqwa yang Allah inginkan adalah taqwa dalam arti senantiasa melibatkan Allah dan meneladani Rasulullah dalam segenap aktifitas duniawi dan ukhrawi. Kapanpun, di manapun, dengan siapapun dan dalam keadaan apapun, Allah dan RasulNya senantiasa menjadi spirit dasar dan alasan segala pikiran, ucapan, dan perbuatan. 


Hadirin jamaah jumat hafidzakumullah


Masihkah kita merasa tenang dan nyaman dengan fakta kehidupan dunia dewasa ini yang semakin banyak terjadi peristiwa, musibah, ujian, dan bahkan fitnah di sana sini, di dunia nyata apalagi di dunia maya tanpa ketebalan iman? Tidak bisakah kita meyakini bahwa semakin lama hidup ini adalah justru semakin mendekati kehidupan akhirat, dan semakin menjauhi dari kehidupan dunia? Tidakah peristiwa, cerita, dan kisah yang Allah lukisjelaskan, yang Nabi tuturkan menyadarkan kita menjadi semakin beriman dan bertaqwa?


Hari ini 22 Rabiul Awwal jumat terakhir marilah memohon kepada Allah agar kita mampu, mau dan berpeluang dapat meneladani qauliyah dan haliyah Rasulullah Saw. Beliau sengaja di utus Allah sebagai delegasiNya untuk memperbaiki, meluruskan dan membina kesucian jiwa, kemuliaan akhlak dan budi pekerti bani Adam. 


Ada dua pesan edukasi dari kehadiran Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasulullah. 


Pertama; Uswah

Uswah adalah contoh ideal, terbaik dan terindah yang direfleksikan melalui kecerdasan akal, ilmu dan pengetahuan, tutur kata dan lisan yang demikian memukau dan mendamaikan. Karenanya Ia benar-benar wajib menjadi contoh dan dapat dicontoh apa dan siapapun. Setiap yang mengikutinya maka dengan serta merta ia menjadi contoh bagi yang lainnya. Dengan kata lain, uswah berarti contoh dan teladan dari segi ucapan, kalimat dan atau kata-kata.


Kedua; Qudwah

Qudwah yaitu panutan aktivitas dan perbuatan nyata, real dan kongkrit.  Segala apa yang dikerjakan Rasulullah, baik pada saat ia sendiri, ataupun saat berjamaah, Beliau senantiasa menjadi panutan teladan. Jika orang hanya bisa berkata, maka Nabi tak hanya berkata semata, melainkan memberikan contoh praktis secara nyata, sehingga siapapun dapat langsung mengikuti gerak-gerik mulianya.


Dua pesan edukasi Nabi Saw ini sebaiknya dijadikan mindset dan pola prilaku hingga menjadi gaya hidup. Gaya hidup bagi seorang muslim adalah bagaimana menerapkan dan menularkan tutur kata, perilaku, perbuatan dan tindakan yang sesuai dengan ajaran dan contoh Nabi Saw. Gaya hidup bukanlah melulu pada sandang, pangan, dan papan, melainkan pada cara berpikir dan memikirkan cara, cara bergaul, cara beribadah, cara bermuamalah, cara memimpin, cara berbudaya, bahkan cara berpolitik, hingga cara meracik kehidupan berbangsa dan bernegara perspektif Nabi Muhammad Saw. 


Hadirin jamaah jumat hafidzakumullah


Semoga kebaikan dan semangat berbuat baik bahkan lebih baik dari sebelumya, dapat terus kita lakukan dan tularkan, sebagai wujud kesolehan kolektif dan sosial.


Baarokallahu lii walakum.


Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Jumat, 29 Oktober 2021

KREDIBILITAS SANTRI DAN PENTINGNYA PENDIDIKAN PESANTREN DI INDONESIA

KREDIBILITAS SANTRI DAN PENTINGNYA PENDIDIKAN PESANTREN DI INDONESIA

 

Oleh: Mugni Muhit 

(Dosen STAI Al-Maarif Ciamis, dan Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Hidayah Jatinagara Ciamis)


Derasnya pertumbuhan dan perkembangan teknologi dan informasi dewasa ini, mendesak hadir dan tumbuhkembangnya sumber daya insani dan insan sumber daya yang berwawasan global, serta bersahabat dengan kemajuan mutakhir. 


Sumber daya insani yang kredible serta memiliki kafabilitas dan berkesadaran global, merupakan dasar utama pembangunan nasional. Indikator sumber daya insani yang bertautan dengan kepentingan nasional adalah kompetensi ilmu pengetahuan dan keterampilan teknologi yang dilandasi iman dan taqwa. Sementara insan sumber daya adalah kesiapan dan ketangguhan implementatif, kecenderungan tanggap dan kepekaan modern serta militansi edukasi yang kolaboratif. Indikator insan sumber daya ini ditengerai dengan kreativitas, inovasi dan karya-karya nyata yang bermanfaat bagi penbangunan mindset modern masyarakat.


Mindset modern dimaksud adalah pola dan cara berpikir yang visible dan bertanggungjawab secara vertikal dan horizontal. Sinergitas cara berpikir dan refleksi faktual merupakan hal yang niscaya menjelang terwujudnya derajat dan kehormatan bangsa tertinggi yang beradab dan bermartabat ilmiah dan imaniyah. 


Ilmiah artinya langkah, keputusan, dan kebijakan di segenap kinerjanya senantiasa didasari oleh logika yang benar, rasio yang bertanggungjawab, fakta yang empirik, serta analisis kritis. Dalam implementasi analisis kritis ini, ranah kognitif didorong kuat agar fungsional dan efektif implementatif pada wilayahnya, yakni kognisi literal, kognisi interpretatif, kognisi, analitik, dan kognisi kreatif. Empat pola berpikir kritis inilah yang sejatinya dipupuk agar semakin tumbuhkembang, berkiprah dikafasitasnya secara proposional, hingga menjadi standar operasional prosedur berpikir. 


Imaniyah memiliki pengertian keyakinan, optimisme, dan kesadaran transendental yang kokoh. Segala aktifitas verbal, fisikal dan akal semata adalah kehendak Tuhan, bahkan dibalut dengan kesadaran dan keberpihakan optimal kepada Sang Pencipta sebagai sumber spirit dan inspirasi besar dan global.


Ilmu dan iman adalah dua konten substansial yang selalu mesti integral mengawal segala aktivitas manusia modern masa kini. Tanpa kebersaman dan kolaborasi efektif keduanya, diyakini tidak akan mencapai capaian yang seharusnya. 


Untuk membangun dan menciptakan sinergi ilmu dan iman dalam seluruh langkah kreasi duniawi ini, maka butuh keterlibatan lembaga yang fokus pada penguatan daya dan kafasitas ilmu dan iman. Core ruhaniyah ini selalu harus menjadi prioritas pembangunan sumber daya manusia dan manusia sumber daya yang siap guna. 


Lembaga pendidikan sebagai salah satu institusi yang komitmen pada pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, memiliki peran yang signifikan guna menopang kuat hadirnya sosok generasi yang kompetitif dan bermartabat mulia. 


Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, dari dulu hingga sekarang, eksistensi, kiprah, dan perannya demikian strategis dalam melahirkan tunas dan generasi militan, berkepribadian panutan, memiliki kedalaman ilmu dan iman yang konkrit. Karenanya tidak ada yang menentang atas keyakinan bahwa pesantren adalah lembaga strategis dan sangat penting dalam proses pembangunan sumber daya manusia. Konsitensi dan komitmen pesantren dalam membantu mendampingi kebijakan pendidikan nasional Indonesia, sangat jelas dan begitu tegas. Kejelasan dari aspek perencanaan, pengorganisasian, pengimplentasian, pengawasan, dan evaluasi, hingga perbaikan yang terus-menerus, menjadi indikasinya. 


Sementara itu ketegasan pesantren mengawal peradaban nasional Indonesia, baik sebelum maupun setelah merdeka, hingga pasca kemerdekaan, pesantren selalu digarda terdepan mengibarkan panji-panji dan nilai pancasila sebagai idiologi perekat kehidupan berbangsa dan bernegara yang bermutu. Upaya pembangunan mutu pesantren dilakukan secara terus menerus agar kiprahnya tak terkendala oleh arus informasi dan teknologi global. Maka pesantren pun hadirkan kolaborasi sistem pelayanan dan dokumentasi berbasis digital. Kini pesantren telah menerapkan istem informasi manajemen yang modern. Dan fakta inilah yang menegaskan bahwa pesantren meskipun lembaga pendidikan tertua dan non formal, namun pesantren mampu membangun kepercayaan masyarakat nasional dan internasional dalam perannya mendidik, membina, mengajar, dan memberikan teladan kebajikan, serta skill keterampilan dan kemandirian.


Para pahlawan kemerdekaan, hampir dipastikan mereka adalah alumni dan produk nyata pesantren. Mereka adalah santri-santri yang memiliki kafasitas dan militansi nasional dan agama yang terpatri kuat dengan baik. Santri adalah sosok ideal generasi untuk negeri pertiwi ini. Nafas santri adalah nafas pertiwi. Pergerakan santri adalah harapan ibu pertiwi yang menginginkan keabadian dalam kemuliaan dan kemajuan serta kesejahteraan sosial yang adil dan merata. 


Sepanjang sejarah, nampaknya hanya pesantren yang senantiasa terbukti mampu menjaga citra dan kafabikitas bangsa yang besar dan bermartabat ini. Strategi, pola dan model pendidikan, pembinaan, dan pengajaran yang unik, humanis, transformatif, dan mandiri menjadikan pendidikan pesantren semakin baik. Kepercayaan publik kepada sepak terjang pesantren pun semakin tinggi. Terbukti di sekitar seribuan pesantren terdaftar di Indonesia mampu melahirkan ulama yang berkesadaran nasional.


Pola dan model pembelajaran pesantren yang unik inilah membuat posisinya semakin kuat di hati dan mindset masyarakat. 


Demikian urgen kiprah dan peran strategis pesantren di Indonesia. Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman luar biasa, Indonesia mampu hidup rukun, damai, harmoni, saling membangun dan menolong, serta gotong-royong satu sama lain bagai keluarga yang tidak mungkin lagi dipisahkan. 


Indonesia adalah rumah besar bagi tunas-tunas bangsa. Tunas bangsa yang layak mengawal dan menjadi nahoda perjalanan panjang negeri ini adalah santri. Santri yang secara terminologi dibangun oleh 4 hurup konstruktif. 


Melalui empat kontruksi kata santri ini diharapkan dapat hadir santripreneur yang kredible lahir maupun batin, serta berkelayakan di segala hal dan keadaan sebagai bagian dari kontruksi bangsa yang menguatkan.


Empat pilar huruf dimaksud yaitu: sin, nun, ta’, dan ro’. Huruf sin merujuk pada satrul al ‘awroh, yang berarti sikap yang selalu menutup aurat. Protektif dan selektif dari segala fenomena menjadi kewaspadaan tersendiri santri. Huruf nun dari na’ibul ulama atau wakil ulama. Santri adalah murid dan sekaligus cikal bakal penerus ulama. Kompetensi jihad dan ruhiyah mewarnai corak pikir dan dzikirnya (competitifness), huruf ta’ dari tarkul al ma’ashi atau kemampuan meninggalkan keburukan dan penyimpangan. Term ini mengandung makna sikap integritas transenden yang dapat diandalkan di segala situasi dan keadaan, serta huruf ‘ro dari ra’isul ummah atau pemimpin umat, bahwa santri adalah generasi yang tidak hanya seorang agamawan, namun juga seorang leaderpreuneur harapan bangsa.


Leader adalah seorang manajer yang di samping harus mampu memimpin dan mengendalikan dirinya sendiri, ia pun mesti mampu mengendalikan orang lain dalam tujuan dan target yang baik dan benar. Indikator seorang manajer yang berkelayakab salah satunya adalah kecakapan dalam berkomunikasi. Pengembangan dari komunikasi ini adalah kepekaan dan kunjungan langsung (silaturahmi). 


Dalam islam, silaturahmi merupakan ajaran sosial yang sangat baik. Efektifitas silaturahmi dapat dirasakan saat itu juga. Sehingga pelakunya akan langsung mendapatkan manfaat dan faidah luar biasa dari silaturahmi.


Silaturahmi sebenarnya merupakan metode komunikasi nabawi yang harus dilestarikan dan direfleksikan dalam pencapaian kinerja optimal lembaga pendidikan dasar, menengah, dan Tinggi. Term silaturahmi dibangun oleh 11 huruf konstruktif. S: Santun, I: Ilmiah, L: luwes, A: afirmasi, T: transformatif, U: urgen, R: reflektif, A: afektif, H: harmoni, M: mandiri, I: implementatif.


Santun adalah karakter akhlak tertinggi dalam interaksional sosial. Ilmiah merupakan mindset yang rasional, logis serta indikasi keterlibatan akal sehat. Luwes merupakan watak performa yang menggambarkan kepekaan dan solidaritas sosial yang kuat. Afirmasi adalah harapan yang diperhitungkan dan keniscayaan yang bertanggungjawab secara vertikal dan horizontal. Transformatif yaitu pergerakan terstruktur berdasarkan perencanaan yang matang. Urgen artinya mendasar dan sangat prinsipil. Reflektif adalah progres yang senantiasa visible menyongsong kemajuan masa depan. Afektif yaitu sikap tegas susana lahir dan batin yang lapang dan menghargai setiap fenomena positif dengan reward and fanishman. Harmoni sebagai puncak pencapaian kinerja tridharma. Mandiri adalah kepiawaian dan kegigihan unik insani dalam memanfaatkan potensi. Implementatif bermakna bahwa segala idea, gagasan, dan rencana strategis dapat termanifestasikan dengan baik dan akomodatif.


Berikut adalah pilar-pilar pencapaian kafasitas santri:


Pertama; santun.

Santun merupakan watak kepribadian yang sangat penting dimiliki. Santun adalah ekpresi integral kebaiman jasmani dan rohani. Saat fisik dan psikis manusia bekerjasama, maka akan sikap ideal seperti kesantunan. Ramah dan pengakuan diri sendiri dan atas orang lain pun juga indikasi kesantunan seseorang. Santri yang baik akan senantiasa berwatak santuan dan ramah terhadap apa dan siapapun yang ia lihat disekitarnya di manapun ia berada. 


Kedua; ilmiah.

Jika santun adalah ekpresi rohani, maka ilmiah adalah ekspresi akal. Ekspresi intelektualitas yang berdaya ditandai dengan adanya cara pandang dan cara sikap yang selalu loyal terhadap berbagai lingkungan. Ilmiah mengandung keberfungsian akal waras, kognisi, dan rasionalitas, serta spirit analisis. 


Ketiga; luwes.

Luwes adalah ekpresi lahiriyah yang ditunjukan oleh sikap legowo, bersahabat dan berdedikasi tanpa batas ruang dan waktu. Luwes ini penerapannya dapat pada segementasi manusia, alam, dan lingkungan (mileu). 


Keempat; afirmatif.

Afirmasi merupakan keyakinan transenden bahwa segala sesuatu sejatinya ditunaikan untuk dan atas nama Tuhan (Allah Swt). Aktifitas positif kinstruktif senantiasa diafirmasikan kepada Sang pemilik dan pengatur seluruh alam semesta ini. Keyakinan inilah yang menjadi alasan terwujud dan tercapainya cita dan asa ideal.


Kelima; transformatif

Dalam al Quran suci Allah Swt menjelaskan bahwa Muhammad Saw sebagai delegasiNya, ia dibekali kafasitas dan kompetensi yang kompatible dengan kehidupan manusia. Muahammad Saw dengan kemampuan sidiq, amanah, fathanah, dan tablighnya melancarkan perintah Tuhan untuk sebarkan ajaran dan doktrin suci kepada seluruh umat manusia. Transformasi energi ini senantiasa menutrisi semesta menjadi kesetiaan dan ketaatan.


Keenam; urgen.

Posisi santri yang demikian urgen dalam percaturan nasional dan global, mengawal dan mendorong tumbang yang bertanggungjawab. Kiprahnya semakin posisioning di kehidupan modern, sehingga kehadirannya adalah menjadi niscaya.


Rasanya santri dengan segala kafasitas dan kredibilitasnya yang unggul dan berwawasan global ini meberikan spirit dan gairah membangun, menata, dan mengeola serta melanjutkan estapeta kepemimpinan bangsa dan nusantara ini semakin optimis. Kemuliaan dan derajat tinggi Bangsa Indonesia ditentukan oleh eksistensi tunas bangsa yang nyantri, nyantri dalam arti intelek, spirit, kreatif, inovatif, dan berjiwa entrepreuneur, serta life skill berbasis teknologi mutakhir 


Wallahu a'lam bimurodih.

STAI ALMAARIF CIAMIS

STAI ALMAARIF CIAMIS

PROFIL STAI AL-MAARIF CIAMIS

GALERI WISUDA KAMPUS