STAI Al-Maarif Ciamis

WEBSITE RESMI STAI AL MAARIF CIAMIS

PENERIMAAN CALON MAHASISWA BARU

PENERIMAAN CALON MAHASISWA BARU

Rabu, 05 Januari 2022

 TARBIYAH RUHIYAH MELEJITKAN KAPASITAS INTELEKTUAL CENDIKIA DALAM AKTIVITAS MUAMALAH MALIYAH

TARBIYAH RUHIYAH MELEJITKAN KAPASITAS INTELEKTUAL CENDIKIA DALAM AKTIVITAS MUAMALAH MALIYAH

Mugni Muhit, S.Ag, S.Pd., M.Ag.



Tarbiyah yang berarti pendidikan, telah diimplementasikan semenjak Nabi Adam As. akan dinobatkan sebagai Khalifah fil Ardl. Tugas utama dan pertama khalifah adalah memakmurkan bumi dan alam semesta yang Allah Ciptakan. Substansi memakmurkan di sini adalah membangun, menata, dan mengelola sistem hidup, serta rekayasa sosial kemanusiaan yang sejalan dan senapas dengan kehendak Tuhan. 

Memakmurkan bumi memiliki pengertian yang sangat luas. Tidak hanya makmur dari perspektif kuantitas dan kualitas, namun juga esensi dan substansi proses memakmurkannya mesti dipandu wahyu dikawal doktrin Tuhan yang Maha Esa, agar akselerasinya maksimal dan efektif.

Efektivitas eksistensi manusia salah satunya yang paling dominan adalah kesadaran ruhiyah. Manakala kesadaran ruhiyahnya tersentuh dengan baik, termanifestasikan dengan seksama, maka disinyalir manusia itu akan benar-benar efektif pada peran dan kiprah kemanusiaannya.

Manusia adalah makhluk dwikutub yang sangat unik. Keunikannya terletak pada potensi hakikinya, yakni potensi fithrah. Secara fithrah, manusia adalah makhluk esensial. Esensi manusia adalah roh. Roh yaitu kebesaran Sang Pencipta. Tanpa roh manusia bukanlah manusia, dan tidak akan bertumbuh dan berkembang sebagaimana seharusnya manusia. 

Roh yang Allah internalisasikan ke dalam jiwa di kedalaman hati yang paling dalam, merupakan nutrisitas sentral, sebagai pemacu dan pemicu munculnya enegri positif. Energi inilah yang menjembatani manusia berjalan, melangkah bersinergi dengan semesta anugerah terbaik Tuhan.

Ada satu anugerah yang seringkali dilupakan oleh manusia, yaitu otak. Otak inilah yang menjadi superleader sekaligus top leader manusia. Dengan otak manusia mampu membedakan kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan. Saat otak ini berfungsi, maka itulah yang kemudian disebut akal. Tuhan sendiri sering mempertanyakan sekaligus monev atas amanah otak yang eksisten ini. 

Berkali-kali Tuhan menyapa dengan santun, apakah kalian tidak menggunakan akal? Apakah kalian tidak memikirkan kebesaran Tuhan, apakah kalian tidak mencermati hamparan semesta ini yang begitu besar dan luas ini sebagai nikmat terindah Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya adalah pengakuan Tuhan bahwa manusia itu mampu berpikir, dapat menggunakan akalnya yang cerdas untuk mengelola alam semesta ini dengan rasionalitas dan logika yang tepat dan efektif.

Secara fisikal, cukup berat sesungguhnya otak manusia yang ada di dalam tengkorak kepala itu. Beban otak itu mencapai 1400 -1700 gram, mendekati dua kilogram. Namun demikian, mengapa kita tidak merasakan beban yang sebesar ini di kepala? Mengapa juga rasanya aman, damai, dan nyaman membawa beban yang cukup berat ini di kapasitas kepala ? Jawabannya adalah sebab otak manusia ternyata mengapung pada cairan tulang belakang kita dengan posisi sangat ideal.

Teori fisika menyatakan, bahwa setiap benda yang terendam dalam cairan dengan otomatis akan kehilangan beratnya sebesar beban cairan tersebut. Oleh sebab itu kita tidak begitu merasakan beban tersebut. Karena berat otak menjadi hanya sekitar 50 gram saja. Ini adalah kuasa Allah, kasih sayang-Nya terhadap manusia.

Untuk menjamin peran otak yang penuh akal ini, maka Tuhan syariatkan ajaran Sholat, bahkan menjadikannya sebagai kewajiban, agar selalu dikerjakan. Ujung-ujungnya supaya otak manusia stabil. Dalam kestabilan inilah otak akan mampu berpikir logis dan sehat menyikapi fenomena hidup dan kehidupan.

Dengan ritual dan harokah yang tertib di dalam sholat, cairan yang mengais otak, bergerak naik turun saat ruku', sujud serta pada segala gerakan sholat. Refleksi ini memungkinkan bagi cairan tersebut mampu memberikan semacam pijatan pada otak. Hal ini mungkin yang menjadi penyebab ketenangan dan kedamaian batin setelah sholat. Semakin terlatih dan terdidik ruhiyah manusia, maka akan semakin cerdaslah ia.

Bermuamalah adalah berinteraksi, berkolaborasi dengan sesama manusia untuk bisa  saling memberi dan menerima manfaat. Manfaat menjadi alasan utama adanya transaksi. Baik dalam ekonomi, keuangan, bisnis dan segala bentuk muamalah manusia.

Sebagai insan cendikia, manusia harus mampu menerapkan kecerdasan akal yang Allah anugerahkan. Dengan akal manusia saling membantu, saling menolong, saling mendukung, saling suport dalam kebaikan dan kesabaran. Tarbiyah birun, taqiyah, dan sobrun inilah sebenarnya yang mendorong kuat melejitkan kapasitas intelektual manusia yang efektif dalam segala aktivitas muamalah maliyahnya.

Senin, 03 Januari 2022

PRAYER AS A HOLY RITUAL EDUCATES THE ABILITY TO MAGNIFY GOD THE MOST GREAT AND REDUCE OTHERS

PRAYER AS A HOLY RITUAL EDUCATES THE ABILITY TO MAGNIFY GOD THE MOST GREAT AND REDUCE OTHERS

Mugni Muhit, S.Ag, S.Pd , M.Ag.

 



Prayer means praying, contemplating getting closer both physically and spiritually to the Creator, Allah Subahanahu wa Ta'ala. Prayer technically begins with takbirotul ihrom in which there is prayer and dhikr then ends with greetings. Takbirotul ihrom is the starting point for movement and contemplation in prayer. Therefore, takbirotul ihrom is a pillar that should not be skipped. The position and quality of the takbirotul ihrom determines the quality and validity of the prayer.

Secara lughawi, takbirotul ihrom berarti kewajiban membesarkan Allah dan haram mengecilkannya. Sebab memang faktanya hanya Allah yang Maha Besar dan harus dibesarkan oleh hamba-Nya, meskipun itu tidaklah berpengaruh apapun kepada dzat Allah. Saat hamba-Nya membesarkan Allah, maka sesungguhnya ia sedang menghargai dirinya sendiri yang manfaat penghargaan itu akan kembali kepadanya, bukan kepada Allah SWT.

Takbir berarti membesarkan, maksudnya mengakui bahwa hanya Allah saja yang Maha Besar, selain-Nya kecil dan bahkan hina dina. Ihrom artinya haram, maksudnya haram hukumnya membesarkan selain Allah. Justru mafhum mukhalafahnya adalah kewajiban membesarkan Allah.

Dengan demikian, takbirotul ihrom bermakna kewajiban mengakui bahwa hanya Allah yang besar, sementara makhluk selain-Nya teramat kecil. Kalaupun ada makhluk yang merasa atau dianggap besar, itu adalah titipan atau amanah dari pemilik kebesaran yang hakiki, yakni Allah Swt. Keyakinan inilah yang menjadkan shalat sah atau tidak sah. Sah jika takbirotul ihrom itu diungkapkan, dan tidak sah shalatnya jika tidak membacakan takbirotul ihrom.

Alasan lain yang juga penting untuk diketahui adalah bahwa dengan takbirotul ihrom, seorang yang sedang shalat menyadari bahwa dirinya kecil, hidupnya, dan segala aktivitas duniawinya, serta segala kedudukan, jabatan, harta benda, dan seluruh bentuk kemewahan dan keagungan dunia, adalah juga kecil dan tak begitu penting manakala ajakan shalat telah berkumandang, dan perintah penunaiannya telah tiba.

Maka shalat sebagai ritual agung dan suci ini, merupakan rekayasa Tuhan yang bertujuan untuk mendidik sikap manusia agar benar-benar menjadi manusia. Pendidikan sikap inilah sebetulnya yang penting dipahami dan direalisasikan dalam kehidupan manusia hingga menjadi kebiasaan, yakni sikap kesadaran diri menjadi tahu diri, tahu situasi dan tahu kondisi. Sikap tersebut pada akhirnya akan membentuk kemampuan seorang muslim untuk membesarkan Allah dan mengecilkan dirinya serta segala sesuatu selain-Nya.

Rabu, 08 Desember 2021

 Prinsip-prinsip Transaksi Ekonomi dan Keuangan Syariah Era Digital

Prinsip-prinsip Transaksi Ekonomi dan Keuangan Syariah Era Digital

                                                    Oleh: Mugni Muhit, S.Ag, S.Pd., M.Ag.


Era digital yang sedang menjadi corak dan warna aktifitas interaksi ekonomi dan keuangan syariah, kini semakin  bertumbuh dan berkembang mengawal berbagai jenis transaksi masyarakat Muslim global. Hampir semua jenis bisnis dewasa ini dapat dikembangkan melalui media sosial dan elektronik lainnya. Dengan kecepatan akses internet yang luar biasa inklusive inilah, seluruh kegiatan ekonomi dan keuangan berjalan begitu cepat. Dalam perspektif Islam, bisnis adalah aktivitas ibadah yang akan mendapatkan keuntungan (ujroh) di dunia kini, dan pahala (ajrun) di akhirat kelak. Keuntungan dwikutub ini akan senantiasa diraih seorang Muslim, manakala aktivitas muamalahnya itu dilandasi oleh niat ibadah dan tujuan humanis teologis.

Niat dan tujuan teologis tersebut sebagai landasan kehalalan kinerja dan amal duniawi. Tanpa niat dan tujuan itu, maka sekecil apapun amal yang dilakukan, tidak akan mendapat keuntungan ganda (profit degree). Oleh sebab itu maka Muslim sejati yang nafasnya iman dan geraknya taqwa serta langkahnya semata untuk ibadah, maka niat dan tujuan ini menjadi prasyarat ketercapaian (al falah). Secara konsepsional, al falah memiliki pilar mendasar, yaitu khair, ma'ruf, dan hasan.

Khair berarti kualitas kebajikan yang dilakukan oleh personal. Kebajikan ini dominasi implikasinya lebih kepada subjek pelaku kebajikan tersebut. Seseorang dinilai baik ketika ia  secara pribadi, tidak mengerjakan atau melakukan tindakan yang menyimpang dari norma, baik norma agama, maupun norma sosial. Ma'ruf artinya sama dengan khair, namun ma'ruf lebih kepada aktivitas yang dikerjakan secara kolektif. Keduanya saling interrelasi. Bahkan saat kedua amal shaleh ini terintegrasi akan hasilkan energi yang berdampak positif bagi terbangunnya insan kamil yang kamaliyat.

Secara lughawi hasan berarti kebaikan yang implikasi positifnya kembali kepada pelaku. Namun berdampak besar bagi kebaikan lingkungan sekitar. Bahkan tatkala orang lain mencontoh dan mengikuti kebaikan itu, maka efek positifnya dapat dirasakan dalam waktu relatif lama bahkan meski telah meninggalkan dunia fana ini. Pilar-pilar inilah yang mesti mengawal sepak terjang dan segala jenis transaksional ekonomi dan keuangan. Hal ini penting agar transaksi tersebut halal sebab telah senapas dengan prinsip syariah.

Prinsip-prinsip syariah

1. Tauhidullah

Keyakinan dan kesadaran bahwa segala aktivitas dan transaksi duniawi adalah semata karena dan untuk Allah Swt. Keyakinan ini menjadi dasar dan latar belakang asasi muamalah. Sehingga semua amal diorientasikan dalam rangka ibadah sebagai bentuk pengkhidmatan dan tasarruf duniawi yang diridhai Sang Pencipta, Pemilik segalanya.

2. Ibahah

Ibahah bermakna dibolehkan dan dibenarkan oleh syariat Islam. Segala hal subjek dan objek serta segala yang terkait dengan keduanya, harus dipastikan tidak mengandung gharar, tidak mengandung maisir, tidak mengandung riba, tidak mengandung tadlis (penipuan), tidak mengandung tahkir (penimbunan), tidak mengandung tadzlim (dzalim dan aniaya), tidak mengandung ma'siyyat (dosa dan menyimpang dari aturan ajaran Islam), serta tidak mengandung Fakhsya (negatif thinking).

3. Halal

Halal di sini artinya sah dan boleh ditransaksikan dan dikonsumsi. Aspek halal ini harus menjadi perhatian serius. Sebab yang baik dan benar belum tentu halal. Tetapi yang halal sudah pasti ia baik dan benar. 

4. Milikutaam

Kepemilikan dalam fiqih Islam ada dua macam. Pertama kepemilikan sempurna (milkuttaam), dan kedua kepemilikan tidak sempurna (milkunnaaqis). Objek yang boleh ditransaksikan adalah objek dengan kualifikasi milik sempurna. Kepemilikan yang belum atau tidak sempurna tidak boleh ditransaksikan.

Ada banyak model dan jenis transaksi dalam dunia maya, termasuk di media sosial. Kini media sosial menjadi ladang dan media strategis para pengusaha dan pebisnis untuk mempromosikan segala jenis produk, baik produk produktif maupun konsumtif. Maka penting bagi umat Islam yang beriman untuk bekerja mencari rezeki dan karunia Tuhan dengan cara yang halal. Cara yang dianjurkan Tuhan dan teladan yang ditunjukan Rasul-Nya.


*Penulis adalah Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah  STAI Al-Ma'arif Ciamis dan Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Hidayah Jatinagara Ciamis.

Sabtu, 30 Oktober 2021

GAYA HIDUP ADALAH ISTIQOMAH MENELADANI RASULULLAH SAW

GAYA HIDUP ADALAH ISTIQOMAH MENELADANI RASULULLAH SAW

 


Oleh: Mugni Muhit

Dosen STAI Al-Ma'arif Ciamis dan Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Hidayah Jatinagara Ciamis


Khutbah I


الحمد لله الذي له ما في السماوات والأرض وهو على كل شيء قدير. والصلاة والسلام على معلم الناس الخير محمد بن عبد الله الذي أوتي القرآن ومثله معه، وجعل الله طاعته من طاعته هو سبحانه. أما بعد،  أما بعد. فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون  


Hadirin jamaah jumat hafidzakumullah


Melalui rutinitas ibadah jumat ini marilah kita  fokus dan istiqomah memperbaiki mutu iman dan kualitas taqwa kepada Allah Azza wajalla. Sebab kita meyakini betul bahwa hanya iman dan taqwa sajalah yang dapat mengawal dan membimbing lahir batin kita menuju kebahagiaan sejati yang sesungguhnya di dunia kini dan ahirat kelak.


Hadirin jamaah jumat hafidzakumullah


Allah azza wajalla menuturkan di dalam QS Ali Imron ayat 102: "wahai orang orang yang beriman bertaqwalah keapada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan jangan kalian mati kecuali dalam keadan beriman dan bertaqwa".


Dalam Tafsir Almaroghi karya monumentalnya Muhammad Mustofa Al-Maroghi, menjelaskan bahwa Taqwa yang Allah inginkan adalah taqwa dalam arti senantiasa melibatkan Allah dan meneladani Rasulullah dalam segenap aktifitas duniawi dan ukhrawi. Kapanpun, di manapun, dengan siapapun dan dalam keadaan apapun, Allah dan RasulNya senantiasa menjadi spirit dasar dan alasan segala pikiran, ucapan, dan perbuatan. 


Hadirin jamaah jumat hafidzakumullah


Masihkah kita merasa tenang dan nyaman dengan fakta kehidupan dunia dewasa ini yang semakin banyak terjadi peristiwa, musibah, ujian, dan bahkan fitnah di sana sini, di dunia nyata apalagi di dunia maya tanpa ketebalan iman? Tidak bisakah kita meyakini bahwa semakin lama hidup ini adalah justru semakin mendekati kehidupan akhirat, dan semakin menjauhi dari kehidupan dunia? Tidakah peristiwa, cerita, dan kisah yang Allah lukisjelaskan, yang Nabi tuturkan menyadarkan kita menjadi semakin beriman dan bertaqwa?


Hari ini 22 Rabiul Awwal jumat terakhir marilah memohon kepada Allah agar kita mampu, mau dan berpeluang dapat meneladani qauliyah dan haliyah Rasulullah Saw. Beliau sengaja di utus Allah sebagai delegasiNya untuk memperbaiki, meluruskan dan membina kesucian jiwa, kemuliaan akhlak dan budi pekerti bani Adam. 


Ada dua pesan edukasi dari kehadiran Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasulullah. 


Pertama; Uswah

Uswah adalah contoh ideal, terbaik dan terindah yang direfleksikan melalui kecerdasan akal, ilmu dan pengetahuan, tutur kata dan lisan yang demikian memukau dan mendamaikan. Karenanya Ia benar-benar wajib menjadi contoh dan dapat dicontoh apa dan siapapun. Setiap yang mengikutinya maka dengan serta merta ia menjadi contoh bagi yang lainnya. Dengan kata lain, uswah berarti contoh dan teladan dari segi ucapan, kalimat dan atau kata-kata.


Kedua; Qudwah

Qudwah yaitu panutan aktivitas dan perbuatan nyata, real dan kongkrit.  Segala apa yang dikerjakan Rasulullah, baik pada saat ia sendiri, ataupun saat berjamaah, Beliau senantiasa menjadi panutan teladan. Jika orang hanya bisa berkata, maka Nabi tak hanya berkata semata, melainkan memberikan contoh praktis secara nyata, sehingga siapapun dapat langsung mengikuti gerak-gerik mulianya.


Dua pesan edukasi Nabi Saw ini sebaiknya dijadikan mindset dan pola prilaku hingga menjadi gaya hidup. Gaya hidup bagi seorang muslim adalah bagaimana menerapkan dan menularkan tutur kata, perilaku, perbuatan dan tindakan yang sesuai dengan ajaran dan contoh Nabi Saw. Gaya hidup bukanlah melulu pada sandang, pangan, dan papan, melainkan pada cara berpikir dan memikirkan cara, cara bergaul, cara beribadah, cara bermuamalah, cara memimpin, cara berbudaya, bahkan cara berpolitik, hingga cara meracik kehidupan berbangsa dan bernegara perspektif Nabi Muhammad Saw. 


Hadirin jamaah jumat hafidzakumullah


Semoga kebaikan dan semangat berbuat baik bahkan lebih baik dari sebelumya, dapat terus kita lakukan dan tularkan, sebagai wujud kesolehan kolektif dan sosial.


Baarokallahu lii walakum.


Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Jumat, 29 Oktober 2021

KREDIBILITAS SANTRI DAN PENTINGNYA PENDIDIKAN PESANTREN DI INDONESIA

KREDIBILITAS SANTRI DAN PENTINGNYA PENDIDIKAN PESANTREN DI INDONESIA

 

Oleh: Mugni Muhit 

(Dosen STAI Al-Maarif Ciamis, dan Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Hidayah Jatinagara Ciamis)


Derasnya pertumbuhan dan perkembangan teknologi dan informasi dewasa ini, mendesak hadir dan tumbuhkembangnya sumber daya insani dan insan sumber daya yang berwawasan global, serta bersahabat dengan kemajuan mutakhir. 


Sumber daya insani yang kredible serta memiliki kafabilitas dan berkesadaran global, merupakan dasar utama pembangunan nasional. Indikator sumber daya insani yang bertautan dengan kepentingan nasional adalah kompetensi ilmu pengetahuan dan keterampilan teknologi yang dilandasi iman dan taqwa. Sementara insan sumber daya adalah kesiapan dan ketangguhan implementatif, kecenderungan tanggap dan kepekaan modern serta militansi edukasi yang kolaboratif. Indikator insan sumber daya ini ditengerai dengan kreativitas, inovasi dan karya-karya nyata yang bermanfaat bagi penbangunan mindset modern masyarakat.


Mindset modern dimaksud adalah pola dan cara berpikir yang visible dan bertanggungjawab secara vertikal dan horizontal. Sinergitas cara berpikir dan refleksi faktual merupakan hal yang niscaya menjelang terwujudnya derajat dan kehormatan bangsa tertinggi yang beradab dan bermartabat ilmiah dan imaniyah. 


Ilmiah artinya langkah, keputusan, dan kebijakan di segenap kinerjanya senantiasa didasari oleh logika yang benar, rasio yang bertanggungjawab, fakta yang empirik, serta analisis kritis. Dalam implementasi analisis kritis ini, ranah kognitif didorong kuat agar fungsional dan efektif implementatif pada wilayahnya, yakni kognisi literal, kognisi interpretatif, kognisi, analitik, dan kognisi kreatif. Empat pola berpikir kritis inilah yang sejatinya dipupuk agar semakin tumbuhkembang, berkiprah dikafasitasnya secara proposional, hingga menjadi standar operasional prosedur berpikir. 


Imaniyah memiliki pengertian keyakinan, optimisme, dan kesadaran transendental yang kokoh. Segala aktifitas verbal, fisikal dan akal semata adalah kehendak Tuhan, bahkan dibalut dengan kesadaran dan keberpihakan optimal kepada Sang Pencipta sebagai sumber spirit dan inspirasi besar dan global.


Ilmu dan iman adalah dua konten substansial yang selalu mesti integral mengawal segala aktivitas manusia modern masa kini. Tanpa kebersaman dan kolaborasi efektif keduanya, diyakini tidak akan mencapai capaian yang seharusnya. 


Untuk membangun dan menciptakan sinergi ilmu dan iman dalam seluruh langkah kreasi duniawi ini, maka butuh keterlibatan lembaga yang fokus pada penguatan daya dan kafasitas ilmu dan iman. Core ruhaniyah ini selalu harus menjadi prioritas pembangunan sumber daya manusia dan manusia sumber daya yang siap guna. 


Lembaga pendidikan sebagai salah satu institusi yang komitmen pada pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, memiliki peran yang signifikan guna menopang kuat hadirnya sosok generasi yang kompetitif dan bermartabat mulia. 


Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, dari dulu hingga sekarang, eksistensi, kiprah, dan perannya demikian strategis dalam melahirkan tunas dan generasi militan, berkepribadian panutan, memiliki kedalaman ilmu dan iman yang konkrit. Karenanya tidak ada yang menentang atas keyakinan bahwa pesantren adalah lembaga strategis dan sangat penting dalam proses pembangunan sumber daya manusia. Konsitensi dan komitmen pesantren dalam membantu mendampingi kebijakan pendidikan nasional Indonesia, sangat jelas dan begitu tegas. Kejelasan dari aspek perencanaan, pengorganisasian, pengimplentasian, pengawasan, dan evaluasi, hingga perbaikan yang terus-menerus, menjadi indikasinya. 


Sementara itu ketegasan pesantren mengawal peradaban nasional Indonesia, baik sebelum maupun setelah merdeka, hingga pasca kemerdekaan, pesantren selalu digarda terdepan mengibarkan panji-panji dan nilai pancasila sebagai idiologi perekat kehidupan berbangsa dan bernegara yang bermutu. Upaya pembangunan mutu pesantren dilakukan secara terus menerus agar kiprahnya tak terkendala oleh arus informasi dan teknologi global. Maka pesantren pun hadirkan kolaborasi sistem pelayanan dan dokumentasi berbasis digital. Kini pesantren telah menerapkan istem informasi manajemen yang modern. Dan fakta inilah yang menegaskan bahwa pesantren meskipun lembaga pendidikan tertua dan non formal, namun pesantren mampu membangun kepercayaan masyarakat nasional dan internasional dalam perannya mendidik, membina, mengajar, dan memberikan teladan kebajikan, serta skill keterampilan dan kemandirian.


Para pahlawan kemerdekaan, hampir dipastikan mereka adalah alumni dan produk nyata pesantren. Mereka adalah santri-santri yang memiliki kafasitas dan militansi nasional dan agama yang terpatri kuat dengan baik. Santri adalah sosok ideal generasi untuk negeri pertiwi ini. Nafas santri adalah nafas pertiwi. Pergerakan santri adalah harapan ibu pertiwi yang menginginkan keabadian dalam kemuliaan dan kemajuan serta kesejahteraan sosial yang adil dan merata. 


Sepanjang sejarah, nampaknya hanya pesantren yang senantiasa terbukti mampu menjaga citra dan kafabikitas bangsa yang besar dan bermartabat ini. Strategi, pola dan model pendidikan, pembinaan, dan pengajaran yang unik, humanis, transformatif, dan mandiri menjadikan pendidikan pesantren semakin baik. Kepercayaan publik kepada sepak terjang pesantren pun semakin tinggi. Terbukti di sekitar seribuan pesantren terdaftar di Indonesia mampu melahirkan ulama yang berkesadaran nasional.


Pola dan model pembelajaran pesantren yang unik inilah membuat posisinya semakin kuat di hati dan mindset masyarakat. 


Demikian urgen kiprah dan peran strategis pesantren di Indonesia. Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman luar biasa, Indonesia mampu hidup rukun, damai, harmoni, saling membangun dan menolong, serta gotong-royong satu sama lain bagai keluarga yang tidak mungkin lagi dipisahkan. 


Indonesia adalah rumah besar bagi tunas-tunas bangsa. Tunas bangsa yang layak mengawal dan menjadi nahoda perjalanan panjang negeri ini adalah santri. Santri yang secara terminologi dibangun oleh 4 hurup konstruktif. 


Melalui empat kontruksi kata santri ini diharapkan dapat hadir santripreneur yang kredible lahir maupun batin, serta berkelayakan di segala hal dan keadaan sebagai bagian dari kontruksi bangsa yang menguatkan.


Empat pilar huruf dimaksud yaitu: sin, nun, ta’, dan ro’. Huruf sin merujuk pada satrul al ‘awroh, yang berarti sikap yang selalu menutup aurat. Protektif dan selektif dari segala fenomena menjadi kewaspadaan tersendiri santri. Huruf nun dari na’ibul ulama atau wakil ulama. Santri adalah murid dan sekaligus cikal bakal penerus ulama. Kompetensi jihad dan ruhiyah mewarnai corak pikir dan dzikirnya (competitifness), huruf ta’ dari tarkul al ma’ashi atau kemampuan meninggalkan keburukan dan penyimpangan. Term ini mengandung makna sikap integritas transenden yang dapat diandalkan di segala situasi dan keadaan, serta huruf ‘ro dari ra’isul ummah atau pemimpin umat, bahwa santri adalah generasi yang tidak hanya seorang agamawan, namun juga seorang leaderpreuneur harapan bangsa.


Leader adalah seorang manajer yang di samping harus mampu memimpin dan mengendalikan dirinya sendiri, ia pun mesti mampu mengendalikan orang lain dalam tujuan dan target yang baik dan benar. Indikator seorang manajer yang berkelayakab salah satunya adalah kecakapan dalam berkomunikasi. Pengembangan dari komunikasi ini adalah kepekaan dan kunjungan langsung (silaturahmi). 


Dalam islam, silaturahmi merupakan ajaran sosial yang sangat baik. Efektifitas silaturahmi dapat dirasakan saat itu juga. Sehingga pelakunya akan langsung mendapatkan manfaat dan faidah luar biasa dari silaturahmi.


Silaturahmi sebenarnya merupakan metode komunikasi nabawi yang harus dilestarikan dan direfleksikan dalam pencapaian kinerja optimal lembaga pendidikan dasar, menengah, dan Tinggi. Term silaturahmi dibangun oleh 11 huruf konstruktif. S: Santun, I: Ilmiah, L: luwes, A: afirmasi, T: transformatif, U: urgen, R: reflektif, A: afektif, H: harmoni, M: mandiri, I: implementatif.


Santun adalah karakter akhlak tertinggi dalam interaksional sosial. Ilmiah merupakan mindset yang rasional, logis serta indikasi keterlibatan akal sehat. Luwes merupakan watak performa yang menggambarkan kepekaan dan solidaritas sosial yang kuat. Afirmasi adalah harapan yang diperhitungkan dan keniscayaan yang bertanggungjawab secara vertikal dan horizontal. Transformatif yaitu pergerakan terstruktur berdasarkan perencanaan yang matang. Urgen artinya mendasar dan sangat prinsipil. Reflektif adalah progres yang senantiasa visible menyongsong kemajuan masa depan. Afektif yaitu sikap tegas susana lahir dan batin yang lapang dan menghargai setiap fenomena positif dengan reward and fanishman. Harmoni sebagai puncak pencapaian kinerja tridharma. Mandiri adalah kepiawaian dan kegigihan unik insani dalam memanfaatkan potensi. Implementatif bermakna bahwa segala idea, gagasan, dan rencana strategis dapat termanifestasikan dengan baik dan akomodatif.


Berikut adalah pilar-pilar pencapaian kafasitas santri:


Pertama; santun.

Santun merupakan watak kepribadian yang sangat penting dimiliki. Santun adalah ekpresi integral kebaiman jasmani dan rohani. Saat fisik dan psikis manusia bekerjasama, maka akan sikap ideal seperti kesantunan. Ramah dan pengakuan diri sendiri dan atas orang lain pun juga indikasi kesantunan seseorang. Santri yang baik akan senantiasa berwatak santuan dan ramah terhadap apa dan siapapun yang ia lihat disekitarnya di manapun ia berada. 


Kedua; ilmiah.

Jika santun adalah ekpresi rohani, maka ilmiah adalah ekspresi akal. Ekspresi intelektualitas yang berdaya ditandai dengan adanya cara pandang dan cara sikap yang selalu loyal terhadap berbagai lingkungan. Ilmiah mengandung keberfungsian akal waras, kognisi, dan rasionalitas, serta spirit analisis. 


Ketiga; luwes.

Luwes adalah ekpresi lahiriyah yang ditunjukan oleh sikap legowo, bersahabat dan berdedikasi tanpa batas ruang dan waktu. Luwes ini penerapannya dapat pada segementasi manusia, alam, dan lingkungan (mileu). 


Keempat; afirmatif.

Afirmasi merupakan keyakinan transenden bahwa segala sesuatu sejatinya ditunaikan untuk dan atas nama Tuhan (Allah Swt). Aktifitas positif kinstruktif senantiasa diafirmasikan kepada Sang pemilik dan pengatur seluruh alam semesta ini. Keyakinan inilah yang menjadi alasan terwujud dan tercapainya cita dan asa ideal.


Kelima; transformatif

Dalam al Quran suci Allah Swt menjelaskan bahwa Muhammad Saw sebagai delegasiNya, ia dibekali kafasitas dan kompetensi yang kompatible dengan kehidupan manusia. Muahammad Saw dengan kemampuan sidiq, amanah, fathanah, dan tablighnya melancarkan perintah Tuhan untuk sebarkan ajaran dan doktrin suci kepada seluruh umat manusia. Transformasi energi ini senantiasa menutrisi semesta menjadi kesetiaan dan ketaatan.


Keenam; urgen.

Posisi santri yang demikian urgen dalam percaturan nasional dan global, mengawal dan mendorong tumbang yang bertanggungjawab. Kiprahnya semakin posisioning di kehidupan modern, sehingga kehadirannya adalah menjadi niscaya.


Rasanya santri dengan segala kafasitas dan kredibilitasnya yang unggul dan berwawasan global ini meberikan spirit dan gairah membangun, menata, dan mengeola serta melanjutkan estapeta kepemimpinan bangsa dan nusantara ini semakin optimis. Kemuliaan dan derajat tinggi Bangsa Indonesia ditentukan oleh eksistensi tunas bangsa yang nyantri, nyantri dalam arti intelek, spirit, kreatif, inovatif, dan berjiwa entrepreuneur, serta life skill berbasis teknologi mutakhir 


Wallahu a'lam bimurodih.

Kamis, 14 Oktober 2021

 Revitalisasi Tata Kelola Kelembagaan PTKIS Menyongsong Era Digital

Revitalisasi Tata Kelola Kelembagaan PTKIS Menyongsong Era Digital

sumber gambar: galamedia.pikiran-rakyat

Oleh: K. Mugni Muhit, S.Ag., S.Pd., M.Ag.


Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIS) merupakan wahana strategis pengembangan, peningkatan pemanfaatakan  sumber daya insani yang credible, capable dan accountable. Kredibilitas PTKIS terletak pada mutu pelayanan optimal yang excellent care. Kapabilitas lembaga didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki kualifikasi teoretis dan praktis memadai dan eksisten. Sedangkan akuntabilitas ditandai dengan adanya internalisasi sistem informasi manajemen lembaga yang optimal, melampaui seluruh kinerja civitas akademika. 


Ikhtiar menghadirkan mutu lembaga sebagaimana diharapkan di atas, antara lain dengan menyelenggarakan kajian, pendalaman, dan penguatan nutrisitas core lembaga dan akademik yang berkelanjutan. Karena itu penguatan tersebut senantiasa diselenggarakan PTKIS, sebagai wujud komitmen kontruksi silaturahmi pimpinan PTKIS Jawa Barat untuk hadirnya sistem edukasi perguruan tinggi yang berkemajuan dan berbudaya mutakhir. 


Hal yang paling penting disentuh untuk penguatan kelembagaan adalah sistem tata kelola internal melalui implementasi dan pengawalan penjaminan mutu secara integral dan komprehensif. Mutu akademik yang senantiasa dikawal dan dirawat dengan baik, memungkinkan terbukanya mutu yang lebih baik dan bersahabat dengan keadaan serta mapu menarik animo dan kesadaran pendidikan masyarakat.


Untuk mencapai target tersebut, maka perlu revitalisasi sistem dan tata kelola pelayanan kampus yang energik, simpatik, dan progresif menyongsong era industri digital. Industri digital ini merupakan core inti penguatan yang akan terus didorong, agar seluruh civitas kampus memiliki kompetensi digital yang berstandar. 


Standar mutu lembaga di era digital adalah terpenuhinya SDM yang ahli di bidang informasi dan teknologi. Maka penguatan ini sesungguhnya tidak hanya sekedar rapat paripurna yang syarat dengan narasi konsepsional, tetapi lebih ke arah pelatihan dan workshop skill para stakeholder kampus berbasis digital, yang implementasinya kebijakan tersebut direalisir hari ini Senin, 11 Oktober 2021 di Hotel Grand Pasundan Bandung. 


Acara tersebut diikuti oleh para pimpinan PTKIS se Jawa Barat. STAI Al-Maarif Ciamis, sebagai salah satu Perguruan Tinggi Islam pun hadir penuhi undangan workshop penguatan lembaga. Ketua STAI Al-Ma'arif Ciamis, Dr. H. Jamiludin Hidayat, S.Pd., M.Sc, berkomitmen  semakin menunjukan arah kemajuan kampus di masa depan. Arah kegiatan ini adalah revitalisasi kebijakan para pengelola PTKIS agar lebih bersahabat dan inclusive dengan sistem digital mutakhir dewasa ini. Secara sistematis instrumen penguatan terdiri dari arah kebijakan kelembagaan dan akreditasi prodi dan institusi, klinik borang program studi, dan peningkatan mutu akreditasi program studi. Narasumber pendamping dan pengawal kebijakan ini adalah para ahli dan.praktisi kelembagaan perguruan tinggi Islam Jawa Barat. 


Keynote speaker sekaligus pengarah secara umum, profesor Dr. KH. Mahmud, M.Si dalam kesempatan ini hadir memberikan kontribusi umum kepada para peserta. Rektor Universitas Islam Bandung sekaligus Koordinator PTKIS ini menegaskan, "Dengan kolaborasi dan saling kontruksi, mari bersinergi berkiprah kembangkan institusi kita masing-masing dengan terus sisipkan muatan IT dan kapasitas teknologi yang memadai. Ini agar perguruan tinggi Islam tidak tertinggal dan tersisihkan oleh sistem dan mekanisme edukasi global". Lebih lanjut Prof Mahmud mengatakan: "ilmu pengetahuan dan IT, serta akreditasi unggul itu harga mati" Profesor Dr. H. Agus Setia Budi, M.Si pun hadir turut berkontribusi dalam suplemen kelembagaan ini. "Sejatinya para pendiri, pemilik dan pengembang perguruan tinggi Islam secara bertahap dan berkelanjutan mengembangkan sistem informasi manajmen dan melek dengan teknologi. Pendidikan akan terhambat dan tergerus hangus tak berdaya, jika para pimpinannya tidak berkesadaran IT dan beradaptasi dengan kemajuan zaman", tutur prof Agus saat menyampaikan orasi ilmiahnya sebagai narasumber. 


Konklusi akhir yang diharapkan dari ikhtiar penguatan kelenbagaan ini adalah terbangunnya sistem akasesibilitas, sustainabilitas, serta dedikasi dan loyalitas para pimpinan PTKIS yang berkesadaran teknologi mutakhir di digital dewasa ini.


*Penulis adalah Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah STAI Al-Maarif Ciamis dan Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Hidayah Jatinagara Ciamis.

Senin, 27 September 2021

MENGGAGAS MODEL PENDIDIKAN ISLAM  ERA MILLENIAL

MENGGAGAS MODEL PENDIDIKAN ISLAM ERA MILLENIAL

 


Oleh

Eka Lisdianty

Dosen Program Studi  Manajemen Pendidikan Islam

 

Abstrak

Di era millenial saat ini dapat kita cermati bersama dan tidak dapat dipungkiri, dewasa ini kita menyaksikan pola pendidikan yang  jauh dari hakikat pendidikan yang sesunguhnya yakni pendidikan yang sesuai dengan definisi pendidikan itu sendiri. Mirisnya generasi milenial ini kebanyakan tidak mau diatur dengan cara lama karena mereka memiliki pemahaman bisa lebih instan dibanding generasi terdahulu bahkan cenderung merasa tidak memerlukan orang dewasa dalam hal pendampingan pendidikannya. Bahkan dari pendidikan millenial yang kita kenal dengan pendidikan modern, seringkali hampir tidak kita temukan kesempurnaan akhlak dan ruhani yang menjadi harapan dari pendidikan itu sendiri. Fenomena yang kita temukan merupakan salah satu wujud penindasan antar manusia dan menurunnya nilai moral. Yang diakibatkan dari kesalahpahaman dalam menentukan sasaran pendidikan itu sendiri. Dengan menganalisis kecenderungan-kecenderungan generasi milenial ini yang seakan kehilangan adab nya terhadap orang dewasa maka diperlukannya menggagas model pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam untuk generasi milenial ini. Supaya generasi milenial ini selain terdepan dalam teknologi juga mengedepankan adab berupa akhlak. 

Kata kunci: Pendidikan Islam, Model Pendidikan Islam, Era Milenial 

A.    Pendahuluan

Keberhasilan sebuah praktek pendidikan, dapat dinilai dari perilaku nyata seseorang. Tidak dapat dipungkiri jika dewasa ini kita menyaksikan pola pendidikan yang benar-benar jauh dari hakikat tarbiyah dan ruhani. Dari pendidikan modern hampir tidak menemukan kesempurnaan akhlak dan ruhani. Fenomena yang kita temukan adalah penindasan antar manusia dan merosotnya nilai moral. Barangkali itu semua merupaka akibat kesahpahaman dalam menentukan sasaran tarbiyah itu sendiri.

Tampaknya tujuan pendidikan modern adalah tercapainya target material yang berkembang menjadi rasa cinta terhadap pekerjaan dan produksi dengan mengesampingkan nilai-nilai dan norma kemasyarakatan. Kondisi seperti itu yang terpikir adalah bagaimana memenuhi kebutuhan materi agar dapat hidup mewah. Hubungan kekeluargaanpun dinilai dengan materi, seperti dalam pemberian mahar atau dalam pemenuhan kebutuha rumah tangga. Hidup yang seperti itu memerlukan biaya hidup yang besar. Ketika mereka tidak menemukan jalan lain yang halal untuk mengumpulkan harta benda, maka korupsi merupakan pilihan. Jika demikian materi menjadi penguasa atas kepribadiannya.

Kalaupun seseorang selamat dari hal itu, dia tidak akan mampu menghindar dari keinginan memperkaya diri dengan menumpuk tabungan di bank seraya meremehkan orang lain yang tidak mampu. Begitu juga kalaupun seseorang selamat dari sifat memperkaya diri, ia tidak luput dari penyakit pamrih. Sehingga ia hanya hanya mau berinteraksi dengan orang atau kelompok yang mampu memenuhi keinginannya.

Dari analisa sederhana ini, kita dapat melihat dan menilai bahwa pendidikan modern selalu dikaitkan erat dengan materi. Akhirnya pendidikan hanya bermanfaat bagi sekelompok kecil masyarakat. Akhlak yang menjadi core pendidikan sering tidak tersentuh tepat sasaran. Berdasarkan uraian di atas maka perlu dikaji lebih lanjut tentang penerapan pendidikan akhlak anak keluarga Muslim dibuktikan dengan data dan fakta empirik.

            Dengan latar belakang di atas, maka  penulis merasa tertarik untuk meneliti masalah yang akan dituangkan dalam artikle sederhana ini dengan fokus telaah terhadap ”Pelaksanaan Pendidikan Akhlak Anak di Keluarga Muslim”.

B.  Perumusan Masalah  

            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1.  Apa tujuan pelaksanaan pendidikan akhlak anak dalam keluaga Muslim?

2.  Bagaimana program pelaksanaan pendidikan akhlak anak dalam keluarga Muslim?

3.  Bagaimana metode pelaksanaan pendidikan akhlak anak dalam keluarga Muslim?

4.  Bagaimana proses pelaksanaan pendidikan akhlak anak dalam keluarga Muslim?

5.  Bagaimana hasil pelaksanaan pendidikan akhlak anak dalam keluarga Muslim?              

C. Tujuan

            Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah  :

1.      Menjelaskan tujuan pelaksanaan pendidikan akhlak anak dalam keluarga Muslim.

2.      Menjelaskan program pelaksanaan pendidikan akhlak anak dalam keluarga Muslim

3.      Menjelaskan metode pelaksanaan pendidikan akhlak anak dalam keluarga Muslim

4.     Menjelaskan Proses pelaksanaan pendidikan akhlak anak dalam keluarga

5.      Menjelaskan hasil pelaksanaan pendidikan akhlak anak dalam keluarga Muslim

D. Kegunaan Penelitian

            Dari kajian konsepsional dan temuan-temuan otentik di lapangan, diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan bahan pemikiran yang berguna, baik untuk keperluan teoritis maupun untuk kepentingan praktis guna lebih menambah pemahaman. Juga merupakan upaya untuk memberikan sumbang pikiran yang berguna dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan akhlak anak dalam keluarga. Di lain segi penelitian ini juga merupakan langkah awal bagi penulis, untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan dan pengalaman menuju peningkatan kualitas diri.

            Secara lebih spesifik kegunaan penelitian ini yaitu:

a.      Kegunaan teoritik

            Hasil analisis ini diharapakan dapat memberikan informasi untuk memperkaya pemahaman pendidikan secara umum tentang pendidikan akhlak anak dalam keluarga Muslim.

            Mengungkap esensi teoritik sangat tepat apabila kerangka teori dibuat mengacu pada landasan-landasan teoritik pendidikan Islam yang berbasis pada nilai ilahiyah dan nilai insaniyah, kedua nilai tersebut perlu dikembangkan melalui pembinaan. Strategi pembinaan dan pendidikan akhlak inilah yang menjadi garapan landasan teoritis penelitian. Atas dasar pemikiran itu, diharapkan dalam persoalan mekanisme dan strategi pendidikan akhlak di lokasi penelitian dapat menggali makna yang tersirat dalam fenomena perilaku anak dan orang tua di rumah, sehingga pada akhirnya akan mampu memberikan konstribusi bagi tataran teoritik dan praktik.

b.  Kegunaan Praktis

            Secara praktis orang tua dapat belajar dari pengalaman. Kegunaan praktis ini diharapkan bermanfaat dalam menghadapi  persoalan pendidikan Islam, khususnya pengembangan penerapan pendidikan akhlak anak dalam keluarga. Selanjutnya hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berharga untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam, baik bagi anggota sebuah keluarga sendiri, orang tua, maupun institusi atau lembaga pendidikan.

            Bagi orang tua, peneladanan dan pembiasaan dalam mendidik akhlak anak, merupakan langkah strategis dalam mewujudkan keluarga Islami. Mengingat Islam tidak hanya dikembangkan sebagai dasar dalam proses belajar mengajar nilai-nilai ajaran agama di sekolah formal saja, akan tetapi perilakunya relevan dengan nilai-nilai akhlak praktis di lingkungan keluarga pada khususnya lingkungan masyarakat luas pada umumnya.

E. Kerangka Pemikiran

            Pendidikan adalah upaya mempercepat pengembangan potensi manusia agar mampu mengemban tugas yang dibebankan kepadanya, sebab hanya manusia yang dapat menerima pengajaran (ta’lim), pendidikan (tarbiyah), dan pembentukan karakter rabbani (ta’dib). Orientasi Pendidikan adalah mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosional, moral, serta keimanan dan ketaqwaan manusia. Demikian halnya dengan pendidikan Islam, ia pun berupaya memproses dan membentuk karakter Islami yang dewasa dan bertanggungjawab  secara horizontal dan vertikal.

            Arifin menuturkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan cita-cita idealitas Islami yang mencakup pengembangan kepribadian Muslim yang beriman, bertaqwa, dan berilmu pengetahuan, mampu mengabdikan dirinya kepada Khaliq dengan sikap dan kepribadian bulat menyerahkan diri kepada-Nya dalam segala aspek kehidupan untuk mencari keridhaan-Nya.[1]

            Menurut Ghazali, pendidikan mencakup tiga aspek penting, yaitu aspek jasmaniyah, ’aqliyah, dan akhlakiyah. Rincian ketiga aspek ilmu yang diajarkan yaitu: (1) ilmu yang diajarkan bukan termasuk ilmu yang tercela, seperti ilmu nujum, sihir, dan perdukunan, (2) ilmu yang diajarkan adalah ilmu tauhid dan cabang ilmu agama lainnya, dan (3) tidak mengajarkan ilmu filsafat yang dapat mengganggu keimanan kepada Allah Swt.[2]

            Oleh sebab itu, substansi pendidikan Islam, semuanya mengacu kepada ilmu yang bersumber dari Allah, sehingga tujuan pendidikan yang mengarahkan manusia menjadi khalifah Allah dan ‘abd Allah dapat tercapai. Agar fungsi kekhalifahan ini berjalan sempurna, peran ilmu pengetahuan sangat diperlukan guna menjaga hubungan manusia dengan Khaliqnya, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan dengan alam sekitar.[3]

            Orientasi pendidikan Islam pada dasarnya perlu pengembangan ketiga aspek tersebut, yang mempunyai proyeksi (inovatif learning), bukan semata-mata melestarikan apa yang ada (maintanance learning), tidak pasif serta dogmatis.[4] Harapan tersebut menunjukkan bahwa formulasi pendidikan Islam mempunyai jangkauan ke masa depan, yakni berupaya menciptakan sosok kepribadian mulia melalui pendidikan akhlak. Pengembangan sosok pribadi yang dikehandaki tersebut dapat dicapai melalui pendidikan dan pembinaan akhlak secara detil dan total.  Jadi arah utama pendidikan Islam adalah kecerdasan (intelektualitas), moralitas (akhlak) dan keahlian (profesionalitas). Dan ketiga arah utama tersebut tersimpul pada satu kata yaitu akhlak.

            Semua persoalan hidup termasuk masalah yang terjadi dalam rumah tangga, sebetulnya dapat diatasi dengan wisdom (bijak, hikmah) sebagai intisari dari akhlak mulia. Wisdom hanya dapat diperolah melalui proses pembinaan dan pendidikan, yakni pendewasaan pribadi agar memiliki integritas paripurna yang mencakup aspek intelektuliatas, moralitas (akhlak), dan spiritulitas. Aspek spiritual dan material niscaya dijalin satu dengan yang lain agar keduanya dapat berfungsi sebagai sumber kekuatan yang saling sinergis dan seimbang.[5]

            Keseimbangan yang mendasari pendidikan Islam terdiri dari tiga kelompok besar, yaitu (1) keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi, (2) keseimbangan antara badan dan ruh, dan (3) keseimbangan antara individu dan masyarakat.[6]

            Keseimbangan sebagaimana tersebut di atas senapas dengan firman Allah Swt:

Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šøs9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ

”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS Al-Qashas{28}: 77)

 

            Dalam hal ini, Zuhairini dkk, dengan mengutip pendapat John Dewey, beliau mengemukakan :

”Pendidikan sebagai satu kebutuhan hidup (a necessity of life), satu fungsi sosial (social function), sebagai bimbingan (as direction), sebagai sarana pertumbuhan (as growth), yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup, transmisi dalam bentuk informasi maupun non formal”.[7]

 

            Selan jutnya, Amir Daien Indrakusuma  mengemukakan bahwa:

”Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan. Bahkan tidak hanya penting saja, melainkan masalah pendidikan itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Pendidikan itu mutlak sifatnya dalam kehidupan, dalam kehidupan keluarga, bangsa, dan Negara. Maju dan mundurnya suatu Bangsa atau Negara, sebagian besar ditentukan oleh maju atau mundurnya pendidikan di Negara itu”.[8]         Ahmad Tafsir mengungkapkan bahwa pendidikan akhlak sesungguhnya adalah inti dari pendidikan Islam. Sebab ending dari pendidikan Islam adalah terbentuknya akhlak mulia.[9]

            Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Arifin mengungkapkan bahwa Pendidikan Islam harus mengandung potensi yang mengarahkan kepada tujuan pendidikan Islam. Dan tujuan pendidikan Islam adalah akhlak.[10]

            Pendidikan juga dapat diartikan sebagai alat yang dapat digunakan dalam suatu proses pencapaian tujuan. Alat itu hanya akan dapat efektif bila penggunaannya disesuaikan dengan  fungsi dan kapasitas alat tersebut.[11]

            Sebagai contoh rumah tangga sukses adalah rumah tangga Rasulullah Saw. Ia tampil sebagai pemimpin keluarga teladan dalam kehidupan berumah tangganya, dalam kesabaran menghadapi keluarganya, dan dalam mengarahkan isteri dan anaknya dengan baik dan benar. Rasulullah bersabda: 

 خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ ِلاَهْلِهِ وَاَنَاخَيْرُكُمْ ِلاَهْلِيْ) رواه ابن حبان)[12]

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang paling baik di antara kalian bagi keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian bagi keluargaku” 

            Pendidik tampil sebagai figur yang dapat memberikan contoh yang baik dalam kehidupannya sehari-hari. Bentuk pendidikan semacam ini keberhasilannya banyak bergantung pada kualitas kesungguhan realisasi karakteristik pendidik yang diteladani, seperti kualitas keilmuannnya, kepemimpinannya, keikhlasannya dan lain sebagainya.[13]

                 Diketahui bahwa orang tua adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang dipikul di pundak orang tua. Orang tua, tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada orang tua. Hal ini menunjukan pula bahwa orang tua tidak  mungkin menyerahkan anaknya ke sembarang orang tua/sekolah, karena tidak  sembarang  orang dapat menjabat sebagai orang tua. 

            Abdurrahman Al-Nahlawi mengemukakan karakteristik orang tua dapat berpindah atau diserap oleh anak melalui dua pola atau bentuk, yaitu sebagai berikut.

1.      Pemberian pengaruh secara langsung, artinya pengaruh yang tersirat dari perilaku akan banyak ditentukan oleh sifat-sifat yang meniru dirinya, baik dalam keunggulan ilmu pengetahuannya, kepemimpinannya, kepribadiannya,  budi pekertinya, akhlaknya dan lain sebagainya. Dalam kondisi demikian, pengaruh keteladanan terjadi secara langsung dan tidak disengaja;

2.      Pemberian pengaruh secara sengaja yang diberikan oleh orang tua dilakukan secara sengaja melalui contoh-contoh perbuatan yang diharapkan dapat ditiru atau diikuti oleh anaknya.[14]

            Dengan demikian kemampuan anak untuk mengidentifikasi dan meniru telah dibarengi pula oleh kemampuan memberikan penilaian yang mendekati kenyataan terhadap sasaran yang diamatinya. Dalam kondisi demikian sebenarnya anak telah mampu membedakan hal-hal yang positif dan negatif (Perbuatan baik/benar dan perbuatan buruk/salah) berdasarkan ciri-ciri yang merupakan akibat dari setiap perbuatan tersebut. Misalnya perbuatan baik akan berdampak positif dan perbuatan buruk akan berdampak negatif. Selanjutnya dari hasil pembelajaran melalui suri teladan yang baik diharapkan mampu tertanam pada karakteristik akhlak para anak.

            Akhlak tidak terlepas dari aqidah dan syariah, oleh karena itu akhlak merupakan pola tingkah laku yang mengakumulasikan aspek keyakinan dan ketaatan sehingga tergambarkan dalam perilaku yang baik. Penelitian ini fokus pada pendidikan akhlak di beberapa rumah tangga karyawan pabrik di Karawang dengan sasarannya bagaimana akhlak anak dapat dibina dan diarahkan, dengan ruang lingkup sebagai berikut: (1) akhlak kepada Allah (2) akhlak pada diri sendiri (3) akhlak pada orang tua (4) akhlak kepada orang lain (5) akhlak pada lingkungan sekitar.

                 Dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa akhlak adalah tabiat, watak, budi pekerti, moral.[15] Dalam buku ensiklopedia Islam tertulis kata akhlak yang merupakan bentuk jamak dari kata al-khuluq atau al-khulq yang secara etimologis berarti (1) tabiat, budi pekerti; (2) kebiasaan atau adat; (3) keperwiraan, kesatriaan kejantanan; (4) agama; dan (5) kemarahan (al-ghadab). Selanjutnya  ensiklopedia itu pun menjelaskan bahwa akhlak yaitu suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia yang daripadanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian.[16]

            Menurut Al-Ghazali akhlak adalah tata cara berperilaku dan berhubungan dengan orang lain, akhlak yang luhur adalah Al-Qur’an, yang tercermin dalam Al-Qur’an adalah Nabi Muhammad Saw.[17]

            Ibnu Miskawaih menuturkan bahwa akhlak adalah sikap mental atau jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan tanpa pemikiran.[18] Jika melihat arti di atas akhlak itu merupakan sifat seseorang yang bisa dilihat dari sikap dan perilaku sehari-harinya. Dengan demikian yang dinamakan akhlak adalah kepribadian hati seseorang yang tercermin dalam perbuatannya terus menerus melakukan hal yang sama di mana pun dan kapan pun juga, baik dalam keadaan lenggang atau dalam keadaan duka cita (bersedih) maupun dalam keadaan suka cita (gembira).

            Dalam sistem pendidikan nasional ditegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[19]

                 Dari pasal tersebut salah satu tujuan pendidikan adalah agar para anak berakhlak mulia, bukan berakhlak tercela yang tentu saja akhlak mulia ada ukurannya yang dijadikan nilai, bagaimana berakhlak mulia itu yang menjadi tolak ukur bagi orang beriman. Bagaimana akhlak mulia itu yang ada pada diri Rasulullah Saw.

            Akhlak yang dimiliki anak harus sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional, yaitu berwatak kepribadian yang baik, jujur, dapat dipercaya, tidak sombong, kreatif, amanah, fatonah, atau cerdas,  punya sifat tolong menolong, rasa oftimisme, menghargai dan sopan pada yang lebih tua, menyayangi pada yang lebih muda, tawakkal pada Allah, mensyukuri ni’mat-Nya  dan bermanfaat untuk manusia lain. Sejalan dengan apa yang telah diuraikan di atas mengenai manifestasi  pendidikan akhlak dalam rumah tangga, bahwa aplikasinya tentu saja memerlukan teknik dan strategi tersendiri seperti peneladanan dan pembiasaan berperilaku baik di dalam rumah tangga. Itulah sebabnya penelitian tesis ini fokus pada manifestasi dan strategi pendidikan akhlak di beberapa rumah Muslim. 

              Uraian di atas menunjukkan pentingnya pendidikan akhlak dalam rumah tangga Islam sehingga tampak pada perilaku komponen rumah tangga termasuk di dalamnya anak. Hal ini terjadi karena proses mengidentifikasi dan meniru dari anak terhadap orang tua melalui persepsi yang dibentuknya berdasarkan kemampuan  pengamatan yang mereka miliki. Persepsi itu sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membedakan antara obyek yang satu dengan yang lain berdasarkan karakteristik atau ciri-ciri khusus yang ada pada obyek yang diamati.

            Dari penjelasan tersebut, teranglah bahwa pendidikan Islam adalah ikhtiar yang tulus dan disadari yang pada awalnya dan seyogyanya ditransfer oleh orang tua dasn semua komponen yang ada dalam keluarga atau rumah tangga agar terbentuk komponen-komponen keluarga dari rumah tangga yang mampu hidup, tumbuh, dan berkembang dengan akhlak mulia. Ada beberapa hal sebagai gagasan awal membangun dan menyiapkan generasi modern (millenial). Dan ini dapat dijadikan antara lain dari sekian banyak jalan keluar (problem solving) sebagai solusi alternatif dfalam tinjauan pendidikan Islam.

            Jalan keluar dari kondisi tersebut adalah sikap bahu membahu dalam menghilangkan kondisi negatif seperti telah disinggung di awal. Rumah kaum Muslimin yang telah diracuni propaganda sesat, harus segara sadar dan melek, lalu mengganti idola-idola sesat dengan idola utama sampai akhir hayat, yakni Nabi Muhamad Saw. Munculkan dan tanamkan dalam jiwa dan pribadi anak-anak kita kecintaan yang besar terhadap sosok Rasulullah Saw, sehingga anak-anak kita berakhlak seperti akhlak Nabi Muhammad Saw. Didiklah mereka agar senantiasa berintrospeksi. Terapkan bahwa segala aktivitas yang kita jalankan semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah Swt dan Rasulullah. Tanamkan dalam jiwa mereka sikap menolak kebathilan sebelum terlajur direalisasikan  menjadi perbuatann atau ucapan tercela.

            Sikap lalai kepada persoalan perilaku tersebut di atas, akan mengakibatkan dan menumbuhkan persoalan besar bagi terciptanya perilaku amoral. Untuk itu segeralah tanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasulnya dalam jiwa anak-anak sejak kecil, sebab faktor-faktor yang mematikan pemikiran jernih senantiasa mengelilingi mereka. Munculkan juga suri tauladan dari ummahatul mukminin dan para sahabat serta guru-guru teladan yang ikhlas beramal, sehingga anak didik menemukan idola dari diri pendidiknya sendiri.

            Dan untuk pendidikan secara umum, penelitian yang sungguh-sungguh terhadap metodologi tarbiyah sesuai al-quran dan assunnah sangat diperlukan. Kita membutuhkan kesungguhan para cendekiawan Muslim untuk mengacu pada teori pendidikan modern yang tidak menyimpang dari garis-garis syariat Islam. (QS Al-Ahzab : 21)

F. Metode Penelitian

1.   Metode yang Digunakan

            Berdasarkan permasalahan yang diteliti, maka dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis naturalistik. Penelitian kualitatif adalah proses penelitian untuk memahami, yang didasarkan pada kebiasaan penelitian dengan metode yang khas, yang meneliti masalah manusia atau masyarakat.

            Dalam hal ini peneliti membangun gambaran atau mendeskripsikan yang kompleks dan menyeluruh, menganalisis kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinnci dan melakukan penelitian dalam prosedur alamiah.[20] Dalam pengertian lain, penelitian kualitatif yaitu menggunakan naturalistik interpretatif. Artinya  dalam pendekatan ini peneliti berusaha memberikan penafsiran dari apa yang diberikan oleh responden yang di dalamnya merupakan kumpulan berbagai bahan empiris, studi kasus, pengalaman personal dan historis.[21]

            Ahmad Tafsir menyatakan, bahwa penelitian kualitatif dengan pendekatan naturalistik mempunyai ciri-ciri yang di antaranya, yaitu adanya kontek natural, instrumen human, pemanfaatan pengetahuan yang terkatakan, sample bersifat purposive, analisis data induktif, pendekatan holistik, konsep validitas reliabilitas diganti dengan kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. [22]

2.      Jenis Data 

            Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan jenis data kualitatif.  Penggunaan jenis data ini berdasarkan bahwa data yang ada tidak berbentuk angka-angka atau nilai-nilai. Tetapi jenis datanya berbentuk kategori-kategori yang sifatnya exausatif,  yaitu semua jenis data yang diperoleh dimasukan ke dalam satu kategori.[23]

            Sehingga jenis data yang dikumpulkan bertitik tolak pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terhadap masalah yang dirumuskan yaitu:

a.       Data tentang keadaan keluarga Muslim.

b.      Data tentang latar belakang pendidikan keluarga Muslim.

3.      Sumber Data

            Untuk memperoleh data yang valid dan objektif, peneliti menetapkan sumber  data :

a.       Data primer, yaitu  data yang diperoleh langsung dari sumbernya dengan cara mengamati dan mencatat untuk pertama kalinya.[24] Untuk memperoleh data primer, maka peneliti melakukan observasi dan wawancara. Dalam hal ini observasi peneliti melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala-gejala subyek masalah yang diselidiki. Adapun dalam wawancara, peneliti melakukannya terhadap responden atau sumber primer, yaitu Bapak sebagai kepala keluarga, istri dan anak dalam keluarga Muslim.

b.      Data sekunder, yaitu data yang bukan merupakan data langsung dari responden, tetapi data yang bersifat kepustakaan atau literatur-literatur, majalah-majalah, keterangan-keterangan atau publikasi lainnya yang bersifat menunjang pada pemenuhan data sekunder.[25]

            Untuk memperoleh data sekunder, maka dikumpulkan buku-buku relevan dengan penelitian, antara lain:

1.      Abdullah al-Kaaf, Izhatun Naasyi’in, terj. Abdullaah Zakiy al-Kaaf, Membentuk Akhlak Mempersiapkan Generasi Muslim, Bandung : Pustaka Setia.

2.      Ibin Kutibin, Meniti Hidup dengan Akhlak, Bandung : Kutibin, 2009.

3.      Hasan Aedy, Kubangun Rumah Tanggaku dengan Modal Ahklak Mulia, Bandung : Alfabeta, 2009.

4.      Amr Khaled, Akhlaq al-Mu’min, terj. Fauzi Faisal Bahreisy, Buku Pintar Akhlak, Jakarta : Zaman, 2010.

5.      Khalid bin ‘Abdurrahman Al-‘Akk, Tarbiyat al-Abna wa al-Banat fi Dhau’ Al-Qur’an wa Al-Sunnah, terj. Muhammad Halabi Hamdi, Cara Islam Mendidik Anak, Jakarta : Ad-Dawa’.

6.      Adnan Hasan Shalih Baharits, Mas’uliyat al-Abi al-Muslimfi Tarbiyat al-Walad fi Marhalati al-Thafulah, terj. Syihabuddin, Mendidik Anak Laki-laki, Jakarta : Gema Insani.

7.      Abdullah Nâsih ‘Ulwan,  Tarbiyat al-Aulad fi al-Islam, Al-Azhar Cairo : Dar as- Salam, 1993.

 

4. Teknik Pegumpulan Data

            Untuk mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka digunakan teknik-teknik sebagai berikut:

a.       Observasi 

            Observasi adalah sebagai alat pengumpul data, peneliti melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki. [26]

            Dalam observasi ini, peneliti lakukan terhadap keluarga karyawan pabrik di Karawang yang beragama Islam, serta kebijakan dan peraturan yang beralaku dalam keluarga tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini digunakan pula observasi parsitipatif, khususnya dalam kegiatan-kegiatan keluarga yang berakaitan dengan pendidikan akhlak anak, sehingga data yang dihasilkan bersifat obyektif dan valid.

b.      Wawancara

            Wawancara  atau interviu merupakan alat pengumpul data, dan digunakan untuk memperoleh informasi atau keterangan-keterangan yang berkenaan dengan pendapat, aspirasi, harapan, persepsi, keinginan, keyakinaan dan lain-lain.[27] Peneliti melakukan wawancara secara detail dengan seluruh anggota dari 60 keluarga Muslim (suami dan istri) Kabupaten Ciamis, termasuk anak-anak mereka. Mereka akan diminta keterangan dengan beberapa pertanyaan yang relevan.

c.  Studi Dokumentasi

            Dalam penggunaan studi dokumentasi ini, peneliti tujukan untuk menggali data yang berhubungan dengan dokumen-dokumen keluarga. Dalam hal ini menyangkut dengan masalah kronologis terjadinya perkawinan, tujuan perkawinan, kesiapan mereka dalam mengarungi bahtera rumah tangga, kesiapan dalam membina dan mendidik anak dan keturunan mereka, termasuk buku-buku/kitab/pustaka pribadi, sertifikat, dan surat kawin serta legalitas lainnya yang berhubungan dengan rumah tangga mereka.

5.  Analisis Data    

            Karena penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naturalistik, maka analisis data yang digunakan  oleh peneliti terdiri atas tiga langkah analisis  yaitu sebagai berikut:    

a. Reduksi data; adalah proses merubah rekaman atau uraian data ke dalam  pola yang difokuskan  kepada pokok-pokok masalah dan hal-hal yang penting;

b. Display data; adalah penyajian data yang menampilkan dengan cara memasukan data ke dalam sejumlah matrik, grafik yang diinginkan agar dapat melihat gambaran atau bagian-bagian tertentu dari penelitian sehingga peneliti dapat menguasai data;

c. Menarik kesimpulan, yakni mencari kesimpulan atas data yang telah direduksi dan disajikan melalui display data.[28]

G. Studi Pustaka

            Dari hasil studi pendahuluan atau eksplorasi yang dilakukan oleh peneliti pada beberapa penelitian tentang akhlak dan keluarga Muslim, dan sepengetahuan peneliti sampai saat ini belum pernah ada yang membahas dan melakukan penelitian tentang pendidikan akhlak anak dalam keluarga Muslim di wilayah Kabupaten Ciamis.

            Untuk memperoleh data sekunder, maka peneliti kumpulkan buku-buku yang relevan dengan penelitian, antara lain :

1.      Abdullah al-Kaaf, Izhatun Naasyi’in, terj. Abdullaah Zakiy al-Kaaf, Membentuk Akhlak Mempersiapkan Generasi Muslim, Bandung : Pustaka Setia. Buku ini ingin meyakinkan bahwa  dengan membentuk akhlak sejak dini dan mulai dari kehidupan keluarga, berarti sedang mempersiapkan generasi  muslim muda yang baik untuk melanjutkan perjuangan di masa yang akan datang.

2.      Ibin Kutibin, Meniti Hidup dengan Akhlak, Bandung : Kutibin, 2009. Buku ini menjelaskan tentang indah dan nikmatnya  menata hidup    rumah tangga yang dilandasi dan dinafasi oleh nilai-nilai akhlak mulia.

3.      Hasan Aedy, Kubangun Rumah Tanggaku dengan Modal Ahklak Mulia, Bandung : Alfabeta, 2009. Buku ini menguraikan dan menginformasikan bahwa ternyata akhlak mulia dapat dijadikan modal rumah tangga sakinah, mawaddah wa rahmah.

4.      Amr Khaled, Akhlaq al-Mu’min, terj. Fauzi Faisal Bahreisy, Buku Pintar Akhlak, Jakarta : Zaman, 2010. Buku ini menjelaskan : (1) pentingnya akhlak luhur dalam membangun kepribadian Islam sejati, (2) motivasi berpegang teguh pada karakter istimewa tersebut, (3) Urgensi setiap akhlak, pengaruhnya bagi diri sendiri dan masyarakat serta pahalanya di dunia dan di akhirat.

5.      Khalid bin ‘Abdurrahman Al-‘Akk, Tarbiyat al-Abna wa al-Banat fi Dhau’ Al-Qur’an wa Al-Sunnah, terj. Muhammad Halabi Hamdi, Cara Islam Mendidik Anak, Jakarta : Ad-Dawa’. Buku ini menjelaskan cara Islam membina dan mendidik anak sejak kecil hingga dewasa dalam keluarga.

6.      Adnan Hasan Shalih Baharits, Mas’uliyat al-Abi al-Muslimfi Tarbiyat al-Walad fi Marhalati al-Thafulah, terj. Syihabuddin, Mendidik Anak Laki-laki, Jakarta : Gema Insani. Buku ini menguraikan pola-pola, motivasi-mativasi, dan teknik-teknik pengajaran dalam mendidik anak-anak pada masa kanak-kanak dengan kaidah-kaidah pendidikan Islam yang benar.

7.      Abdullah Nâsih ‘Ulwan,  Tarbiyat al-Aulad fi al-Islam, Al-Azhar Cairo : Dar as- Salam, 1993. Buku ini menjelaskan tentang strategi dan aplikasi mendidik anak dalam tinjauan Islam yang dilengkapi dengan bukti-bukti rasional dan ilmiah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Akk, Khalid bin ‘Abdurrahman. 2006. Tarbiyat al-Abna wa al-Banat fi Dhau’ Al-Qur’an wa Al-Sunnah, terj. Muhammad Halabi Hamdi, Cara Islam Mendidik Anak, (Jakarta : Ad-Dawa’.

Al-Zaba’lawi, Muhammad Sayyid Muhammad. 2007. Tarbiyat al-Murahiq bain al- Islam wa Ilmi al-Nafs, diterjemahkan Abdul Hayyie al-Kattani, Pendidikan Remaja antara Islam dan Ilmu Jiwa, Jakarta : Gema Insani.

Al-‘Athi, Hammudah Abd. 1984. The Family Strukture in Islam, terj. Anshari Thayib, Keluarga Muslim.

Al-Barry, M Dahlan Y dan Yacub, L Lya Sofyan. 2003. Kamus Induk Istilah Ilmiah, Surabaya : Target Press.

Al-Zantani, ‘Abd al-Hamid al-Shayyid. t.th, Usus al-Tarbiyah al-Islamiyyah fi al-Sunnah al-Nabawiyyah, Tunis : al-Dar al-Arabiyyah li al-Kitab.

al-Ahya.

Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Toumy. 1979. Falsafah Pendidikan Islam  Jakarta : Bulan Bintang.

Al-Jurjani, Ali bin Muhammad. 1988, Kitab al-Ta’rifat, Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.

Al-Kaaf, Abdullah, 2010. Izhatun Naasyi’in, terj. Abdullaah Zakiy al-Kaaf, Membentuk Akhlak Mempersiapkan Generasi Muslim, Bandung : Pustaka Setia.

Aedy, Hasan, 2009. Kubangun Rumah Tanggaku dengan Modal Ahklak Mulia, Bandung : Alfabeta.

Al-Abrasyi, Athiyah. 1993. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang.

Saleh, Abdul Rachman. 2004, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa: Visi, Misi dan Aksi, Jakarta : Radjawali Pers.

Marimba, Ahmad D. 1998, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Al-Ma’arif.

Tafsir, Ahmad. 1992, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja Rosda Karya.

......................., 2006. Filsafat Pendidikan Islami: Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan Manusia, Bandung : Remaja Rosdakarya.

Rahman, Jamal Abdur. 2005, Tahapan Mendidik Anak, Bandung : Irsyad Baitus Salam.

Kutibin, Ibin. 2009. Meniti Hidup dengan Akhlak, Bandung : Kutibin .

Khaled, Amr, 2010. Akhlaq al-Mu’min, terj. Fauzi Faisal Bahreisy, Buku Pintar Akhlak, Jakarta : Zaman.

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung : Alfabeta.



[1]HM Arifin, Ilmu, hlm. 55.

[2]Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Mukhtashar Ihya’ ‘Ulum al-Ddin, (Jakarta : Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2003), hlm. 11-14.

[3]Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Jogjakarta : Al-Ruzz Media, 2007), cet. ke-2. hlm. 61.

[4]Ibid.  

[5]Khurshid Ahmad, Islam : Is Meaning and Message, terj. Achin Mohammad, Pesan Islam, (Bandung : Pustaka, 1983), hlm. 219.

[6]Fathiyyah Hasan Sulaeman, Madzahibu fi al-Tarbawiyah Bahtsu fi al-Madzahibu al-Tarbawiyyi ’Inda Al-Ghazali, (Mesir : Maktabah Nahdha, 1964), cet. ke-3, hlm. 31. Abidin Ibn Rush, Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 132.

[7]Zuhairini dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), hlm. 152.

[8]Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1993), hlm. 44.

[9]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 143.

[10]HM Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2000), hlm. 198.

[11]Soegarda  Poerbakawatja, Ensiklopedia Pendidikan, (Jakarta : Gunung Agung, 1980), hlm. 213-214.  

[12]Wahbah  Zuhaili,  Al-Fiqh al- Islam  wa Adilatuhu, (Damaskus : Dar al-Fikr, 2005), cet. ke-8, jil. 9, hlm. 6598.

[13]Ahmad Tafsir, Pendidikan,  hlm. 37.

[14]Abdurrahman Al-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan dalam Keluarga di Sekolah dan  di Masyarakat,  (Jakarta : Gema Insani, 1995), hlm. 266-267.

[15]Dikbud,  Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1999), hlm. 10.

[16]Dewan Redaksi Ensklopedia Islam, Ensiklopedia Islam jilid I, (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve,  2003), hlm. 102.

[17]Al-Ghazali, Akhlak al-Muslim,  (Bandung : Trigenda Karya, 1969), hlm. 10.

[18]Ibnu Miskawaih, Tahzdib al-Akhlak, terj. Helmi Hidayat, Menuju Kesempurnaan Akhlak,   (Bandung : Mizan, 1994), cet. ke-1, hlm. 56.

[19]Afnil Guza, Undang-undang Sisdiknas dan Undang-undang Orang tua dan Dosen, (Jakarta : Asa Mandiri, 2009), hlm. 5.

[20]Nana Sudjana,  Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung : Sinar  Baru, 1990), hlm. 4.

[21]Ibid.

[22]Ahmad Tafsir,  Epistimologi  untuk  Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati, 1995), hlm. 73. 

[23]Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1977), hlm. 254.

[24]Marzuki, Metodologi Riset, (Yogyakarta : Badan Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, 1986), hlm. 55. 

[25]Ibid., hlm. 56.

[26]Ibid., hlm. 58.  

[27]Nasution S, Metode Naturalistik Kualitatif, ( Bandung : Tarsito, 2003), hlm. 67. 

[28]Nana Sudjana, op. cit., hlm. 129. 

STAI ALMAARIF CIAMIS

STAI ALMAARIF CIAMIS

PROFIL STAI AL-MAARIF CIAMIS

GALERI WISUDA KAMPUS